thefirstmanonjupiter
Reality, Honesty, Stupidity...zoomed. Exaggerating is an art!

The puppet society--Part I

Labels:

Kami sedang berada di sebuah ruang meeting yang ber-wallpaper batik dengan warna coklat bergradasi tujuh tingkat. Ada podium yang tersedia dengan celah tipis yang terisi tongkat cagak Jayakanta. Di depannya—duduk di theater tujuh tingkat—adalah para wayang-wayang yang sedang mendengarkan ceramah kepatuhan yang sedang diberikan Jayakanta.
Jayakanta adalah sosok dewasa yang memperoleh kedewasaannya dengan cara yang kompleks. Dari luar dia adalah sosok yang patuh dan—selain kecerdasan berbeda tingkat dengan wayang-wayang yang lain—kepatuhannya membawanya berdiri di atas podium itu.
Setelah beberapa elu-eluan oleh wayang-wayang disana, Jayakanta berdehem. Dan itu pertanda akan dimulainya pertemuan itu.
“Terimakasih atas kedatangan rekan-rekan semua. Saya tahu tidaklah mudah untuk melarikan diri barang sejenak dari para tuan-tuan anda. Jadi sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Agenda pertemuan kita kali ini akan saya buka dengan sebuah cerita yang saya dapatkan dari tuan saya. Sebagaimana anda-anda semua sudah tahu, dia adalah seorang penulis cerita budaya. Saat ini dia sudah menyelesaikan 17 cerita pendek dari 24 yang dia rencanakan untuk terbit tahun depan. Selama proses pembuatan cerita-cerita itu, saya terus dipandangi oleh si penulis untuk menda[atkan inspirasi. Dan jujur saja, saya benar-benar penasaran tentang apa yang dia tulis. Jadi di suatu malam, saya turun dari tempat saya biasa dipajang dan membaca salah satu tulisannya. Ada satu bab disana yang berjudul Jayakanta—sebuah kepatuhan. Di kesempatan ini, saya akan menceritakan kepada anda sekelumit tentang cerita itu.
“Digambarkanlah Jayakanta itu benar-benar seperti saya-tipis, berlekuk dengan derajat yang tepat, enak dipegang dan dimainkan, serta mimik muka yang penuh ekspresi karena dua pasang alis yang flexible.
“Suatu hari, Jayakanta dihadapkan oleh sebuah masalah. Dia didatangi Mbah Surio—seorang tokoh wayang magis yang mempunyai pendapat bahwa wayang harus mempunyai kebebasan berekspresi. Dia harus bisa bergerak sendiri untuk bekerja lebih maksimal dan lebih bermanfaat. Dan kekuatan magis itulah yang dia tawarkan ke Jayakanta.
“Jayakanta segera menolaknya. Dia menunjukkan tato di lengan kanannya dengan sebuah tulisan Jawa yang berarti “Kepatuhan adalah tujuan hidup tertinggi.” Mbah Surio tidak berhenti disana. Dia berdehem sejenak. Dia menawarkan sesuatu yang lain. Dia menawarkan sebuah kesempatan untuk bertukar tempat dengan tuannya. Mbah Surio cukup menggugah Jayakanta melalui kata-kata yang dipilihnya. Dan tampaknya dia berhasil.
0 comments:

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
There is a time in a man's life when he has to make a very important decision that will affect his future. For me,..it's writing this blog. ( Exaggerating is an art!!)

leave ur msg after the "beep". LOL.


ShoutMix chat widget
Count me in...