thefirstmanonjupiter
Reality, Honesty, Stupidity...zoomed. Exaggerating is an art!

SERIUS

"Serius" adalah bagian dari DARK JOURNALS--the series

Aku sungguh salut mendengar cerita Wawan sore itu. Ingin rasanya aku bertemu dengan Nita-tokoh di cerita Wawan dan memberinya selamat walau sekarang dia sedang ada di penjara.
Polisi buncit informanku itu—Wawan—mengirimkan sebuah pesan pendek ke hapeku untuk bertemu. Buatku, bertemu dengannya adalah mengorbankan dua ratus ribu rupiah untuk sebuah cerita kejahatan yang lebih sering tidak lengkapnya daripada lengkapnya. Saat itu aku sedang mempertimbangkan untuk menggunakan jasa informan lain, namun harus kuakui si polisi bincit itu mempunyai akses yang kemana-mana jauhnya. Terbukti dari beberapa kasus yang sudah aku jadikan artikel di sebuah surat kabar sementara polisi sendiri belum resmi melakukan penyelidikan tentang itu. Ataukah polisi kita yang lamban?
Wawan memilih Excelso Kelapa Gading untuk pertemuannya kali ini. Dan didepannya sudah ada dua—bukan satu—tapi dua gelas kopi berkaramel dan se-cup blackberry muffin. Saat aku dating, dia sedang memesan makanan yang lain.
“Hahaha. Pas banget lo dateng. Pas banget buat gw ngerokok. Hahahaha. Bagi dong.”
Dan sebungkus rokok STARMILD ku pun tergeletak di meja kecil itu untuk segera dia palak.
“To the point aja, gua nggak ada waktu.”
“Hahaha. Always nggak ada waktu. Ada apa si sebenernya ma lo? Elo mesti dateng ngomong hal yang sama. Maaaan, gw kan nggak buang-buang waktu elo.”
Aku menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan tepat di wajah Wawan. Setelah keluar semua asap, aku menjawabnya dingin.
“Lo yakin lo mau gw nge-list down pengeluaran gw tiap kali kita ketemu?”
“Hahahahahaha. Uda nggak usa. Ntar lo repot. Hahhahaha.”
“Uda langsung aja.”
“OK. Eh lo nggak pesen minum?”
Aku memandang lurus ke mata Wawan.
“Ya uda. Gua langsung ya. Ini ni teknologi ni masalahnya. Apalagi kalo bukan facebook.”
“Mmm.”
“Ni gua buka BB gua ya. Hehehe. Gua bisa dapet BB gara-gara ketemu lo, nih.”
“Gua tabung duit-duit dari elo. Dapet deh ni BB. Ni asik lo. Elo yakin gak pake?”
“BB lo lama loadingnya?”
“Eh,..uda kok.Ni.”
Aku melihat nama YUANITA ROSA di layar BB nya. Cantik. Menarik. Sexy. Menggoda. Wanita bisa saja berfoto dengan pose wajah close up,memamerkan gigi putih yang sedang menggigit lidah menggoda dengan kedua mata menyipit. Tapi tampaknya dia memberikan arti pada sesuatu hal yang biasa kita sebut sex appeal.
“Lama banget litany. Demen lo? Hahahaha. Terus gw pingin elo liat ini.”Wawan menarik BB nya dan kemudian memencet-mencet keypadnya dan ketika dia menunjukkan BB nya lagi ke padaku, aku mulai berpikir jaraknya sudah tiga tahun.
“Sorry, baru soalnya. Hehehe. Tu liat ada account fb satu cowok yang namanya RENDRA. Dia tu bahannya si NITA.
Aku memandang Wawan dengan kepala sedikit kucondongkan kekiri atas.
“Gini. Si NITA itu browse-browse di fb. Dia nge-add cowok-cowok bening kayak si RENDRA itu. Ceritanya, dulu banget si NITA ngebet ni ma RENDRA. Cowok mana si yang nggak demen liat foto cewek gigit lidah gitu. Gigit lidah kalo dipikir-pikirkan mirip kayak lagi sakit step ya. Hahahhahahhahahahaha. Huk..huk.. Sorry.”
“Lompatin aj bagian gigit-gigit lidah. Anw, lo tau info ini dari siapa?”
“Ada cewek di bagian adminkantor polisi. Bodynya maaaaan,...” Wawan berhenti sejenak da menatap aku. “Harus gua lompatin juga bodynya?”
Pandanganku tetap dingin. “Man, elo gay kali ya. Well, anyway, balik ke masalah Nita, ya itulah kerjaannya. Dia deketin tu cowok-cowok yang modelnya kayak RENDRA. Dia ajakin ketemuan. And,...menurut laporannya si Rendra, dia si setelah beberapa kali ketemuan maunya fun aja and nggak ada yang serius gitu. Nita juga kayaknya ngasi kesan yang sama...awalnya. Kebelakang-belakangnya, mulai deh yang macem-macem mintanya. Standard aja sih sebenernya ceritanya. Sampe akhirnya si Rendra masa bodo amat deh ama itu cewek. Ditinggalinlah dengan cara yang nggak enak biar itu cewek nggak balik lagi.” Wawan dia sebentar dan itu sangat menggangguku. Dia seharusnya menyelesaian cerita itu dan bukannya menyalakan rokok yang menjadi salah satu sogokanku dan menghisapnya dalam-dalam seolah-oleh itulah angin  buatnya yang sudah bertaun-taun terperangkap di ruang hampa udara.
“Terus?”
“Bentaaaar.”
Ini sangat menyebalkan buatku.
“Trus udah dong si Rendra mikir ya udah kelar. Nita nggak bakal ngeganggu lagi dong.”
“But...”
“But,...she come back. Hehehe. Bener nggak grammar gua?”
Aku diam saja. Wawan akhirya melanjutkan ceritanya.
“Ya udah gitu aja awalnya. Si Rendra balik fb-an and twitteran and uda dapet fans-fans baru cewek-cewek yang dia ajak kenalan and kopi darat. Wah, bahasa gua delapan puluhan banget ya. Hehehehe.”
Filler-filler seperti ini yang membuatku mereasa membuang-buang waktuku.
“Anehnya adalah-dan keanehan ini disadarin Rendra setelah Nita ketangkep polisi-semua cewek yang diajakin Rendra ketemuan pada nggak mau. Yang ada mereka malah sayang-sayangan di fb. Cinta-cintaan abis deh. Pada komen ke setiap status yang Rendra bikin, pada nulis di wall nya si Rendra, pada “like” statusnya Rendra yang padahal menurut Rendranya sendiri nggak mutu kayak “males”, “pusing”, “bĂȘte”. Eh, anyway, elo paham kan istilah-istilah per-fb-an?”
Pandangan mataku lurus ke mata Wawan dan wajahku tidak memasang satu ekspresipun.
“Sampe ni suatu saat pada betengkar di wall-nya Rendra gara-gara masalah simple. Uda dong si rendr ngearasa aneh. Aneh lagi karena cewek-cewek itu pada nyebut-nyebut soal ukuran itunya Rendra di FB. Langsung lah dia blok itu cewek-cewek. Rendranya ngerasa seneng direbutin tapi malu juga kan kalo dibilang seukuran tusuk gigi yang nggak tajem? Hahahahaha. Keren deh komennya. Cewek-cewek ngeres kayak gitu yang gua demen. Blak-blakan soal seks. Hahahaha.”
“Terus?”
“Terus dasarnya si Rendra ini nge-add sapa aja yang minta di-add, muncullah macem-macem masalah. Ada cowok-cowok yang di profilenya ge-band, kan rendra anak band juga tuh, eh tau-tau setelah beberapa bulan, fotonya jadi cewek and infonya juga berubah and mulailah ngata-ngatain si rendra lagi di wall. Rendra and temen-temennya pada bingung and you know what, Rendra ke temennya yang lumayan pinter soal internet-internetan gitu. Dikasi lah account and passwordnya Rendra ke dia and you know what, ini temen bilang gak ada yang aneh dari account-account orang yang ngancurin FB nya Rendra. Si temen itu ngusulin si Rendra...”
Dan aku tidak percaya kenapa Wawan berhenti di tengah-tengah cerita tanpa aturan seperti ini untuk meminum kopinya!!!
“Si temen nyuruh Rendra untuk bikin yang FB yang baru. Fb nya yang lama dikasi ke temennya untuk diselidi katanya. Hebat ya orang-orang yang bisa paham banget internetan kayak begituan?”
Dalam hati aku berkata bahwa akulah yang hebat karena bisa bersabar menghadapi dia!
“Ni yang seru nih. Temennya suatu saat pas online di chat FB, ketemu sama salah satu cewek yang annoying itu. Ngobrolah mereka. Pas ngobrol itu,  somehow dengan kepintarannya si temen, dia bisa tau IP address si cewek untuk ditelusuri alamatnya. Tau tuh dia punya koneksi orang mana. Dia ngelakuin hal yang kayak gitu ke beberapa orang yang ada di account FB nya si Rendra. And you kow what, selama sebulan dia sempat chat ama 30an cewek dan semuanya punya IP address yang sama!”
“Ini kopi enak banget sih. Seger.”
“Itu caramel.”
“Oohh..”
“And cerita lo belum kelar.”
“Hahahaha. Well, uda ampir kelar kok. Si temen lapor ke Rendra and si Rendra lapor ke polisi. Baru hari ini keluar penyelidikan kalo Nita itu otaknya semua gangguan-gangguan di FB Rendra. Tau gak, selama ini dua uda bikin 57 email, 36 account FB and YM and semuanya hanya buat connect ke Rendra. Pas denger ini, kata informan gua, si Rendranya diem nggak bisa ngomong apa-apa.”
Dalam hati aku akan melakukan yag sama dengan Rendra.
“Gua Cuma ngebayangin niatnya ini cewek. You kow what, gua cek sendiri beberapa FB aliasnya si Nita. Semuanya kayak bener-bener orang beneran. Kerjaannya variatif, perusahaannya beda-beda. Ada beberapa yang ke link jadi temen and ada bebrapa yang nggak. Gua cek lewat FB-nya Rendra,...status-statusnya bener-bener nggak ada yang aneh. Ada status yang lagi sedih, seneng, soal kerjaan, cinta, eluarga, bener-bener kayak fb orang-orang yang bener aja.”

Walaupun aku tidak menunjukkannya, akhir dari percakapan itu membuatku merinding. Sehebat itukah Rendra? Sekuat itukah cinta Nita? Atau dia hanya sakit? Wawan benar bahwa cinta yang mulanya standard bisa berakhir di luar dugaan.
Di depan netbook HP ku aku memikirkan sebuah kalimat untuk membuka ceritaku. Aku mendapatkannya.
“Apa anda kenal semua teman di facebook anda?”

--Je--
4 comments:

jadi si wawan adalahhh.... hehehhee


yang di bandung. hahhahaha.


wan: kakakakakakakakakakakaak.


About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
There is a time in a man's life when he has to make a very important decision that will affect his future. For me,..it's writing this blog. ( Exaggerating is an art!!)

leave ur msg after the "beep". LOL.


ShoutMix chat widget
Count me in...