thefirstmanonjupiter
Reality, Honesty, Stupidity...zoomed. Exaggerating is an art!

Moving

9:30 AM
At times I change things for some reasons. The result may be better or worse. It happens in my blogging world as well. I moved into www.thefirstmanonjupiter.com ...for now. Thank you for visiting my new home by clicking the link.
Read On 0 comments

SERIUS

11:46 PM
"Serius" adalah bagian dari DARK JOURNALS--the series

Aku sungguh salut mendengar cerita Wawan sore itu. Ingin rasanya aku bertemu dengan Nita-tokoh di cerita Wawan dan memberinya selamat walau sekarang dia sedang ada di penjara.
Polisi buncit informanku itu—Wawan—mengirimkan sebuah pesan pendek ke hapeku untuk bertemu. Buatku, bertemu dengannya adalah mengorbankan dua ratus ribu rupiah untuk sebuah cerita kejahatan yang lebih sering tidak lengkapnya daripada lengkapnya. Saat itu aku sedang mempertimbangkan untuk menggunakan jasa informan lain, namun harus kuakui si polisi bincit itu mempunyai akses yang kemana-mana jauhnya. Terbukti dari beberapa kasus yang sudah aku jadikan artikel di sebuah surat kabar sementara polisi sendiri belum resmi melakukan penyelidikan tentang itu. Ataukah polisi kita yang lamban?
Wawan memilih Excelso Kelapa Gading untuk pertemuannya kali ini. Dan didepannya sudah ada dua—bukan satu—tapi dua gelas kopi berkaramel dan se-cup blackberry muffin. Saat aku dating, dia sedang memesan makanan yang lain.
“Hahaha. Pas banget lo dateng. Pas banget buat gw ngerokok. Hahahaha. Bagi dong.”
Dan sebungkus rokok STARMILD ku pun tergeletak di meja kecil itu untuk segera dia palak.
“To the point aja, gua nggak ada waktu.”
“Hahaha. Always nggak ada waktu. Ada apa si sebenernya ma lo? Elo mesti dateng ngomong hal yang sama. Maaaan, gw kan nggak buang-buang waktu elo.”
Aku menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan tepat di wajah Wawan. Setelah keluar semua asap, aku menjawabnya dingin.
“Lo yakin lo mau gw nge-list down pengeluaran gw tiap kali kita ketemu?”
“Hahahahahaha. Uda nggak usa. Ntar lo repot. Hahhahaha.”
“Uda langsung aja.”
“OK. Eh lo nggak pesen minum?”
Aku memandang lurus ke mata Wawan.
“Ya uda. Gua langsung ya. Ini ni teknologi ni masalahnya. Apalagi kalo bukan facebook.”
“Mmm.”
“Ni gua buka BB gua ya. Hehehe. Gua bisa dapet BB gara-gara ketemu lo, nih.”
“Gua tabung duit-duit dari elo. Dapet deh ni BB. Ni asik lo. Elo yakin gak pake?”
“BB lo lama loadingnya?”
“Eh,..uda kok.Ni.”
Aku melihat nama YUANITA ROSA di layar BB nya. Cantik. Menarik. Sexy. Menggoda. Wanita bisa saja berfoto dengan pose wajah close up,memamerkan gigi putih yang sedang menggigit lidah menggoda dengan kedua mata menyipit. Tapi tampaknya dia memberikan arti pada sesuatu hal yang biasa kita sebut sex appeal.
“Lama banget litany. Demen lo? Hahahaha. Terus gw pingin elo liat ini.”Wawan menarik BB nya dan kemudian memencet-mencet keypadnya dan ketika dia menunjukkan BB nya lagi ke padaku, aku mulai berpikir jaraknya sudah tiga tahun.
“Sorry, baru soalnya. Hehehe. Tu liat ada account fb satu cowok yang namanya RENDRA. Dia tu bahannya si NITA.
Aku memandang Wawan dengan kepala sedikit kucondongkan kekiri atas.
“Gini. Si NITA itu browse-browse di fb. Dia nge-add cowok-cowok bening kayak si RENDRA itu. Ceritanya, dulu banget si NITA ngebet ni ma RENDRA. Cowok mana si yang nggak demen liat foto cewek gigit lidah gitu. Gigit lidah kalo dipikir-pikirkan mirip kayak lagi sakit step ya. Hahahhahahhahahahaha. Huk..huk.. Sorry.”
“Lompatin aj bagian gigit-gigit lidah. Anw, lo tau info ini dari siapa?”
“Ada cewek di bagian adminkantor polisi. Bodynya maaaaan,...” Wawan berhenti sejenak da menatap aku. “Harus gua lompatin juga bodynya?”
Pandanganku tetap dingin. “Man, elo gay kali ya. Well, anyway, balik ke masalah Nita, ya itulah kerjaannya. Dia deketin tu cowok-cowok yang modelnya kayak RENDRA. Dia ajakin ketemuan. And,...menurut laporannya si Rendra, dia si setelah beberapa kali ketemuan maunya fun aja and nggak ada yang serius gitu. Nita juga kayaknya ngasi kesan yang sama...awalnya. Kebelakang-belakangnya, mulai deh yang macem-macem mintanya. Standard aja sih sebenernya ceritanya. Sampe akhirnya si Rendra masa bodo amat deh ama itu cewek. Ditinggalinlah dengan cara yang nggak enak biar itu cewek nggak balik lagi.” Wawan dia sebentar dan itu sangat menggangguku. Dia seharusnya menyelesaian cerita itu dan bukannya menyalakan rokok yang menjadi salah satu sogokanku dan menghisapnya dalam-dalam seolah-oleh itulah angin  buatnya yang sudah bertaun-taun terperangkap di ruang hampa udara.
“Terus?”
“Bentaaaar.”
Ini sangat menyebalkan buatku.
“Trus udah dong si Rendra mikir ya udah kelar. Nita nggak bakal ngeganggu lagi dong.”
“But...”
“But,...she come back. Hehehe. Bener nggak grammar gua?”
Aku diam saja. Wawan akhirya melanjutkan ceritanya.
“Ya udah gitu aja awalnya. Si Rendra balik fb-an and twitteran and uda dapet fans-fans baru cewek-cewek yang dia ajak kenalan and kopi darat. Wah, bahasa gua delapan puluhan banget ya. Hehehehe.”
Filler-filler seperti ini yang membuatku mereasa membuang-buang waktuku.
“Anehnya adalah-dan keanehan ini disadarin Rendra setelah Nita ketangkep polisi-semua cewek yang diajakin Rendra ketemuan pada nggak mau. Yang ada mereka malah sayang-sayangan di fb. Cinta-cintaan abis deh. Pada komen ke setiap status yang Rendra bikin, pada nulis di wall nya si Rendra, pada “like” statusnya Rendra yang padahal menurut Rendranya sendiri nggak mutu kayak “males”, “pusing”, “bĂȘte”. Eh, anyway, elo paham kan istilah-istilah per-fb-an?”
Pandangan mataku lurus ke mata Wawan dan wajahku tidak memasang satu ekspresipun.
“Sampe ni suatu saat pada betengkar di wall-nya Rendra gara-gara masalah simple. Uda dong si rendr ngearasa aneh. Aneh lagi karena cewek-cewek itu pada nyebut-nyebut soal ukuran itunya Rendra di FB. Langsung lah dia blok itu cewek-cewek. Rendranya ngerasa seneng direbutin tapi malu juga kan kalo dibilang seukuran tusuk gigi yang nggak tajem? Hahahahaha. Keren deh komennya. Cewek-cewek ngeres kayak gitu yang gua demen. Blak-blakan soal seks. Hahahaha.”
“Terus?”
“Terus dasarnya si Rendra ini nge-add sapa aja yang minta di-add, muncullah macem-macem masalah. Ada cowok-cowok yang di profilenya ge-band, kan rendra anak band juga tuh, eh tau-tau setelah beberapa bulan, fotonya jadi cewek and infonya juga berubah and mulailah ngata-ngatain si rendra lagi di wall. Rendra and temen-temennya pada bingung and you know what, Rendra ke temennya yang lumayan pinter soal internet-internetan gitu. Dikasi lah account and passwordnya Rendra ke dia and you know what, ini temen bilang gak ada yang aneh dari account-account orang yang ngancurin FB nya Rendra. Si temen itu ngusulin si Rendra...”
Dan aku tidak percaya kenapa Wawan berhenti di tengah-tengah cerita tanpa aturan seperti ini untuk meminum kopinya!!!
“Si temen nyuruh Rendra untuk bikin yang FB yang baru. Fb nya yang lama dikasi ke temennya untuk diselidi katanya. Hebat ya orang-orang yang bisa paham banget internetan kayak begituan?”
Dalam hati aku berkata bahwa akulah yang hebat karena bisa bersabar menghadapi dia!
“Ni yang seru nih. Temennya suatu saat pas online di chat FB, ketemu sama salah satu cewek yang annoying itu. Ngobrolah mereka. Pas ngobrol itu,  somehow dengan kepintarannya si temen, dia bisa tau IP address si cewek untuk ditelusuri alamatnya. Tau tuh dia punya koneksi orang mana. Dia ngelakuin hal yang kayak gitu ke beberapa orang yang ada di account FB nya si Rendra. And you kow what, selama sebulan dia sempat chat ama 30an cewek dan semuanya punya IP address yang sama!”
“Ini kopi enak banget sih. Seger.”
“Itu caramel.”
“Oohh..”
“And cerita lo belum kelar.”
“Hahahaha. Well, uda ampir kelar kok. Si temen lapor ke Rendra and si Rendra lapor ke polisi. Baru hari ini keluar penyelidikan kalo Nita itu otaknya semua gangguan-gangguan di FB Rendra. Tau gak, selama ini dua uda bikin 57 email, 36 account FB and YM and semuanya hanya buat connect ke Rendra. Pas denger ini, kata informan gua, si Rendranya diem nggak bisa ngomong apa-apa.”
Dalam hati aku akan melakukan yag sama dengan Rendra.
“Gua Cuma ngebayangin niatnya ini cewek. You kow what, gua cek sendiri beberapa FB aliasnya si Nita. Semuanya kayak bener-bener orang beneran. Kerjaannya variatif, perusahaannya beda-beda. Ada beberapa yang ke link jadi temen and ada bebrapa yang nggak. Gua cek lewat FB-nya Rendra,...status-statusnya bener-bener nggak ada yang aneh. Ada status yang lagi sedih, seneng, soal kerjaan, cinta, eluarga, bener-bener kayak fb orang-orang yang bener aja.”

Walaupun aku tidak menunjukkannya, akhir dari percakapan itu membuatku merinding. Sehebat itukah Rendra? Sekuat itukah cinta Nita? Atau dia hanya sakit? Wawan benar bahwa cinta yang mulanya standard bisa berakhir di luar dugaan.
Di depan netbook HP ku aku memikirkan sebuah kalimat untuk membuka ceritaku. Aku mendapatkannya.
“Apa anda kenal semua teman di facebook anda?”

--Je--
Read On 4 comments

The puppet society--Part I

1:15 PM

Kami sedang berada di sebuah ruang meeting yang ber-wallpaper batik dengan warna coklat bergradasi tujuh tingkat. Ada podium yang tersedia dengan celah tipis yang terisi tongkat cagak Jayakanta. Di depannya—duduk di theater tujuh tingkat—adalah para wayang-wayang yang sedang mendengarkan ceramah kepatuhan yang sedang diberikan Jayakanta.
Jayakanta adalah sosok dewasa yang memperoleh kedewasaannya dengan cara yang kompleks. Dari luar dia adalah sosok yang patuh dan—selain kecerdasan berbeda tingkat dengan wayang-wayang yang lain—kepatuhannya membawanya berdiri di atas podium itu.
Setelah beberapa elu-eluan oleh wayang-wayang disana, Jayakanta berdehem. Dan itu pertanda akan dimulainya pertemuan itu.
“Terimakasih atas kedatangan rekan-rekan semua. Saya tahu tidaklah mudah untuk melarikan diri barang sejenak dari para tuan-tuan anda. Jadi sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Agenda pertemuan kita kali ini akan saya buka dengan sebuah cerita yang saya dapatkan dari tuan saya. Sebagaimana anda-anda semua sudah tahu, dia adalah seorang penulis cerita budaya. Saat ini dia sudah menyelesaikan 17 cerita pendek dari 24 yang dia rencanakan untuk terbit tahun depan. Selama proses pembuatan cerita-cerita itu, saya terus dipandangi oleh si penulis untuk menda[atkan inspirasi. Dan jujur saja, saya benar-benar penasaran tentang apa yang dia tulis. Jadi di suatu malam, saya turun dari tempat saya biasa dipajang dan membaca salah satu tulisannya. Ada satu bab disana yang berjudul Jayakanta—sebuah kepatuhan. Di kesempatan ini, saya akan menceritakan kepada anda sekelumit tentang cerita itu.
“Digambarkanlah Jayakanta itu benar-benar seperti saya-tipis, berlekuk dengan derajat yang tepat, enak dipegang dan dimainkan, serta mimik muka yang penuh ekspresi karena dua pasang alis yang flexible.
“Suatu hari, Jayakanta dihadapkan oleh sebuah masalah. Dia didatangi Mbah Surio—seorang tokoh wayang magis yang mempunyai pendapat bahwa wayang harus mempunyai kebebasan berekspresi. Dia harus bisa bergerak sendiri untuk bekerja lebih maksimal dan lebih bermanfaat. Dan kekuatan magis itulah yang dia tawarkan ke Jayakanta.
“Jayakanta segera menolaknya. Dia menunjukkan tato di lengan kanannya dengan sebuah tulisan Jawa yang berarti “Kepatuhan adalah tujuan hidup tertinggi.” Mbah Surio tidak berhenti disana. Dia berdehem sejenak. Dia menawarkan sesuatu yang lain. Dia menawarkan sebuah kesempatan untuk bertukar tempat dengan tuannya. Mbah Surio cukup menggugah Jayakanta melalui kata-kata yang dipilihnya. Dan tampaknya dia berhasil.
Read On 0 comments

Creative designs

7:35 AM
Dept gw lagi asik2nya (o,rili?) bikin semacam modul gt deh. Dan bos gw yang selalu one step ahead of others when it comes to technology and creatiity, ngecoba bikin sesuatu yang beda untuk tampilan modul itu. nah, browse lah dia di beberap situs yang kemudian ditunjukin ke kita. Ini salah satunya. Situs ini creative abis. Kalo lo lo pada g ada hubungannya sama kegunaan yang ditawarkan di situs ini, at least elo semua bisa ngagumin aj isinya.Itung pleaseure for the eyes,deh :)
Klik aj disini :).
Read On 0 comments

Me and the toilets in the world

7:18 AM
OK, gw g tau ya nyokab gw ngidam apa pas ngandung gw. Yang jelas neh,...bertaun2 gw idup, gw suka ngerasa ada attraction tertentu antara idup gw and toilet. Pernah baca cerita gw yang gw diinterview ama cowok di toilet? Kalo belum, klik disini. Kalo uda baca, ni gw tambahin dua lagi. Bukan satu,..tapi DUA and dua-duanya kejadian di hari yang sama!!! Magiiiiiiiiic~~~.

Hari ini adalah hari yang males banget buat gw. Ada satu kerjaan yang ternyata gw salah and sepagian sampe siang gw harus ngejegrog di depan komputer (asik kali ya kalo sama gelaran tiker, ngupi and ngerokok). Cuma ada KFC sih waktu itu,..and PEPSI. Lumayaaaaaaan. Akhirnya, sampelah gw di titik gw harus pipissadar tangan gw belepotan saos KFC. Dengan sigap gw angkat pantat and masuk ke toilet. Ada apa disana???? Ada siapa--itulah pertanyaannya!

Ada salah satu janitor gw yang religius abis. Mungkin dia lah yang bakal pertama masuk surga dari daftar orang2 di kantor gw! (OK,..I was just exaggerating!) Anw, ini bapak and gw terperangkap di venue ini dan terjadilah hal berikut:

"Eh,...pa kabar,Pak?" (tau dong ini siapa yang ngomong)

"Baek,..baek,.." Dan ada bunyi mengucur dari sebuah urinoir.

Tangan kanan gw langsung muter kran di washtafel. Sebelumnya gw liat nih ada yang nyempil di gigi gw. Gw beresin dulu dong... Dan tau g apa yang terjadi? Itu Bapak yang dari tadi munggungin urinoir (and kebetulan tempatnya itu deket sama washtafel), ngarahin tangannya ke washtafel buat ngambil air dari kran yang gw bukan tadi.

"Tenang,..tenang,....." Kata Je kepada diri sendiri. "Nggak bisaaaaaaaaaaaaaaa..."

Itu tangannya si Bapak abis dari kucuran washtafel gw,diarahin ke apapun yang ada di balik punggungnya. Oooooo Myyyy Gooood!!!! (For you ATEHIS people, believe in God deh. He realy did that!!!!)

Gw mutusin ngebiarin dulu beberapa detik air kran ngucur sementara tangan kiri gw nenggak PEPSI kaleng.Pas uda segeran ni tenggorokan dari a disturbing scene itu, gw mau balik ke acara cuci tangan gw lagi dong. And you know what, tangan itu menjalar lagi ke kran air gw and trus diumpetin ke arah urinoir lagi. Oooooooouuuuuuhhhh,........

"Maaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!!"

After that gw ngangkat tangan kotor gw tinggi-tinggi "Gw bersumpah!!!! Gw g akan cuci ini tangan sampai seluruh nusantara bersatu!!!!"


Dan si Bapak tadi noleh ke gw sambil ngangkat-ngangkat celananya and zip up resletingnya di depan gw. Quite a show!!!

"Mari, Pak."
"Mari,..." Disertai hembusan nafas sepanjang jalan kenangan di tembok China pas bapak itu uda keluar toilet....




That's it? Hihihihi I wish!!!

Sorenya gw harus jalan ke daerah Mampang buat bertugas mencerdaskan bangsa-bangsa karyawan sebuah retail asing terbesar di Indonesia.(Cari sepuluh piring nasi di Jakarta emang susah ya). Dan setelah perjalanan panjang, gw masuk toiletnya dong. Mau touch up gituuu.Hihihihi. Dan pipis adalah ritual pembuka gw.

Pas gw pipis, masuklah salah satu peserta yang antusias banget ngikutin sesi-sesi gw. He said "Hi" to me and I "Hi"ed back at him.
Gw inget istrinya baru keguguran and gw nanyain kabar istrinya. Uda kelar that short conversation, masuklah satu cowok lain yang hai hai an ma dia and langsung menuju ke urinoir. Pas itu gw uda di wahstafel cuci muka and nenangin diri abis dari perjalanan. Ternyata gw g bisa tenang juga. Itu peserta bilang ke temennya yang saat itu posisinya sama-sama fokus ke urinoir.
"My teacher."
"Ha?"
"My teacher." Kata "MY TEACHER" yang kedua ini diucapkan dengan badan sedikit condong ke arah gw sebagai ganti telunjuk. Waaaaaaaaaaaaat....

"Pak..."
"Eh, iya. mari..." langsung gw keluar walaupun acara basuh muka tujuh tahap gw belum kelar. Bukannya apa-apa, after all that happened, g salah dong kalo gw takut nt gw diajak salaman!!!!!!!
Read On 4 comments

Yu tu bi FILMING DAY

8:15 PM
Kapan terakhir kali lo ke YOUTUBE (baca: yu tu bi--red: hihihihi)? Kalo lo lagi mampir kesana,coba deh lo cek  logo yang ada di kanan atas situsnya. Bakal ada tulisan YOUTUBE FILMING DAY. Apa pula itu?

Itu adalah hasil kelakuannya Si Ridley Scott and kevin McDonald (jadi laper gw). Dua2nya ini sutradra film yang iseng2 (kayaknya) ngajakin semua YOUTUBER untuk ngirim video mereka tentang kegiatan elo elo pada sehari2. Mau yang tukang jual jamu, mau yang tukang molor, mau yang tukang tukangan,...apa aj deh. Pokokmya elo ngeshoot diri lo and lo upload ke youtube. Nt diliat2 ama mereka trus yang kepilih videonya (kata mereka si berdasarkan yang paling beda n paling buat mereka tonton banget) akan diedit and dijadiin film dokumenter. Demen? Seneng? Kepingin? Cepetaaaaaaaaaaaan,..cepetan sadar klo elo2 semua uda pada telat. Secara batesnya tanggal 24 July ini. Hihihihihi.

Tapi masih penasaran hasilnya kan? Gw juga. Siapa si di dunia ini yang 24 jamnya begitu menarik perhatian 2 sutradar ini. Kalo lo tau, bagi infonya ke gw ya. Coba deh lo klik link disini :).
Read On 2 comments

When you are old...

7:31 PM
"When you are old, you tend to avoid problems." My senior said.
Being young(er) I disagree completely to that kind of attitude in a work place. But then again,I think there was something wrong with the description of the word "problems". I was blamed, though when I wanted to replace the word with another word--challenge. And suddenly, I felt like I was the public enemy.

What's with that? Did I misinterpret a PROBLEM Challenge? I still believe that I didn't. You can call me hard-headed--I know someone who would, and I know that they are right. You can call me anything, as a matter of fact. My space for ego is spacious, you know.

One thing that makes me still believe in myself is... I have the data to support what I believe in. Maybe the others are too busy enjoying that comfort sofa of theirs and too busy with themselves to bother understanding what I said.

I am just disappointed with people right now. And I am looking for a new toy--an old one, actually, but I haven't played with it seriously for quite some times...FACEBOOK.
Read On 2 comments

K

8:54 PM
 Gw lagi di rumah temen gw malem itu. Ada beberapa orang ngumpul disana. Salah satunya punya MOBI juga kayak gw. Masalahnya, MOBInya lagi eror. Dia minta gw buat ngecek2 kenapa kok bisa eror.
Naiklah gw ke tingkat dua rumahnya untuk nyobain itu MOBI di komputernya. Dan ternyata emang g bisa. Trus ceritalah dia background dr masalah keMOBIannya.
“Dulu tu asik2 aj. Tapi kayaknya gw rusakin sendiri tu MOBI.”
“Terakhir kali pake kapan, mas?” Tanya gw.
“Sekitar seminggu yang lalu. Waktu itu kan gw colokin pas ada protection dari yang porno2 tuh.”
“Waaaa diprotek ya? Bete dong.”
“Iya. Tiap kali mau yang ke porno2 ada not..nofikasi..not..”
“Notifikasi?”
“Iye. Notifikasi protection untuk K-9. Jadi g bisa yang porno2.”

Jauuuuuuuuh banget dari pintu masuk hati gw nih,…masuk aj abis lampu merah lurus aj sampe belokan kedua ambil kanan, ada pohon asem and bunderan, kiterin aj and ambil yang jalur kanan and lurus g belok2,….gw ketawaaaaaaaaaaaaaaaaaaa kenceng.

“K-12 maksudnya?”
“Ha?”
“K-9 kan artinya anjing, Mas.”
Read On 2 comments

The hustle and bustle of Semarang

8:26 AM
Gileeeeee deh,...
Gw baru kali ini ngalamin tugas yang kayak gini. Emang si selama ini gw sering bilang ke orang2 kalo departemen gw ni kayak Emergency Room (ER) nya Rumah Sakit. Kita yang kerja disana harus selalu siap sedia membela negara yang bisa ganti-ganti situasi kapan aja. Ini nih tugas gw ke Semarang juga kayak gitu.


Adalah trainer A yang di-assign jauuuuuuuuuuh2 hari untuk ke Semarang Minggu lalu. Mulai kerjanya hari Senin and berangkatnya hari Minggu. Pas hari Sabtu dia ngecancel assignment karena dia sakit panas parah. OK deh,..ganti trainer B. He said "YES!". Tapiiiii hari Minggu siang dia cancel. Betapa damai ya dunia ini.
....
Langsung lah gw yang baru bangun, bos gw yang lagi fitnes and temen gw yang lagi nunggu temennya (temennya temen gw tu g gw kenal ya. Hihihihi) interview di radio, pada dikumpulin lewat dunia maya. Cieeeeeeee.....
Kita online ngerubah jadwal yang uda diupload di internet. Dan utak sana atik sini,...gw pergi ke Semarang ngajar subject baru. So sweeeeeeeeeet.


Sore itu gw masih di rumah temen gw yang minjem external hardisk gw yang baru kinclong sekinclong2nya and gw butuhin untuk ke Semarang. Dan nunggulah gw. Apa yang bisa gw lakuin? Bengong. Secara gw g mood ngutak2 file powerpoint. Atau lebih tepatnya, materinya belum di guaaaaaaaaaaaaaaaaa. Edaaaaaaan!!!


Akhirnya Harddisk di tangan gw sekitar jam 9 malem and gw langsung hunting materi. Bat Bet Sat Set,..g dapet apa2...masalahnya ya itu,..belum mood. Hihihihi. Anw,...besok paginya, sama aj belum jadi itu materi. Masih belum tune in ngurusin materi secara tiket n hotel aj belum di book. Gw sempat bilang "Bawain aj gw tenda. Bisa gelaran di Lapangan Simpang Lima." Hihihihi.


Ending2nya flight gw jam 7 malem. Hotel gw dibagi dua. 3 hari pertama di HORISON and sisanya di CIPUTRA. Lumayan bisa ngerasain dua. Hihihihi. Tapi tetep aj nggak bisa relax secara masih ngurusin materi tiap malem and belum lagi bagi2 jadwal ketemu temen sma and kakak gw. Kan gw kelahiran Semarang. Reuniii reuniiii.... Hehehehe.


Ge ketemu temen2 lama yang disertai jeritan malam sana sini and gebukan tanpa ampun sebagai tanda kangen. (Nasibnya jadi gua yaaaa). Dan selama ketemuan2 itu, dunia dibagi dua menurut timeline: dulu dan sekarang. Beberapa variablenya adalah: financial condition, physical description dan love affairs. Hasilnya...alhamdulillah meningkat semua baik dari pihak gw ato temen2 gw. Finally I realized that seru juga ya reunian :)


So, anw ada satu peajaran yang gw bakal inget banget sepanjang hidup gw yang penuh warna-warna dasar menggelora bak bung karno:
Gw di fight pulang ke Jakarta. Waktu itu gw ngantuuuuk bgt. Akhirnya bisa deh tuh bobo. Yang gw lupa adalah, penerbangan smg-jkt kan cuma sekitar 50 menit, jd, bentaaaaar aj gw merem, kaki gw langsung kesenggol itu trolley yang ngebawa makanan n minuman. Dooh pusingnya. Ya uda, mungkin gw emang harus minum dulu biar segeran dikit. Nah, sebelum kita ke acara pesen memesen, let;s go back to one fine day dimana gw ngucapin sumpah darah akan dua hal yang gw yakin buat orang2 nggak penting banget:
"Selama gw di pesawat, gw:
1. Akan memesan minum: apple juice no ice.
2. Gw g akan pipis.


Nah,...pas itu steawardess mepet2 gw, ga uda siap2 ditawarin dong. Tp ternyata ada acara sodok2an dulu. Kaki gw kena si trolley and no apologiesss? Yo wes. Sabar ajah....


"Mau pesen apa, Pak?"


"Apple juice, no ice."


Dan setelah beberapa waktu, datenglah apple juice WITH ICE.


Complain, nggak, complain, nggak, complain, nggak.... NGGAK. Sabaaaar....


(Jeduuug)


Kaki gw kena trolley lagi. And nooooooo apology lagi. Sabaaaaaar...


OK, gw minum deh itu apple juice with ice biar rada ademan juga kali ya ini emosi orang yang lagi ngantuk. And u know wat,...gw jadi pingin pipiiiiiiiiiiiiis. OH, NO!!!


Gw kasi waktu dulu ke diri gw sebentar untuk memustuskan pipis nggaknya. Disaat2 nunggu verdict, gw liat sebuah adegan yang disturbing,.


"Adek mau minum apa?" Tanya seorang pramugari ke anak kecil yang duduk di jendela..kakak tua kaleeeee.
"Susu."
"Susu. OK."
"Bukan. Orange juice."
"Oh, orange juice. OK."
"Bukan. Apple juice."
"Mmm."
"Bukan, susu aj. Pake es."
SI pramugari tadi langsung nggak ngeliat anak kecil yang ganti2 pesenannya. Dia liat trolleynya, ambil gelas, and ambil es--cuma satu bongkah doang, tapi gw yakin bongkahan es itu yang bikin TITANIC tenggelem!!!
Dan temennya si pramugari yang ada didepannya ketawa cekikikan ngeliat that bongakahan TITANIC.


Dalam hati gw mikir: "Nggak sopan banget. I thought customers were king!"
(But then again, we were pasasngers, not customers).


balik ke urusan pipis, uda ah nggak usa pipis aja. Jakarta juga paling bentar lagi keliatan. Gw tahan2 aj. Apakah gw kuat? Sumpah nggak!!! Gw lepasin lah itu sabuk pengaman St. Yves dengan gaya gerak lambat. Gw kibasin rambut tangan and trus gw berdiri dengan elegannya.....and langsung gw doyong!!!! 
Ya ampun, di dalam pikiran gw selama ini kan g ada bedanya ya berdiri di bis sama berdiri di pesawat. Sumpah ternyata beda banget! Isi perut gw kayak uda mau naik semua. Bisa nemu jalan aj itu makanan2 n minuman2 yang ge minum seharian. Doooh, kalo sampe harus throw up, at least gw harus nyampe kamar mandi dulu. Mau dikemanain image gw coba???


Dan sampelah gw di pintu depan kamar mandi. Ketok dl apa g ya? Uda kayak minta gula ke tetangga aja! Langsung deh gw masuk. Sempiiiit. Dan di film2 mereka ML di toilet pesawat???? Mmmm,...wat a challenge!


OK. Kembali ke objective gw di kamar mandi...pipis. Langsung gw scan seluruh ruangan untuk mengidentifikasi apa aj yang ada disana. Sumpah deh,...komplet. Yang g ada cuma tombol flush!!! Apaaaaaaaaaaaa???? Mana ini manual cara pake toilet pesawat???
Wait, not to panic. Not to panic. Use you common sense. G mungkin g ada tombol flushnya. Memangnya mau dikantongin semua????? Bukannya apa2,..ngambilnya gimana???


OK, akhirnya gw bisa nemu the flushing thing. Gw langsung deh buka celana,...langsung jg gw keluarin itu gw...buat nyeka jidat gw yang keringtan. Hihihihi. Dan berlangsunglah proses rekresi. Dan sumpah deh gw kaya banget inventarisnya pas itu. Hebat jg ternyata. 


Eeee ada cermin di sebelah kanan gw. Gw cek jambul dulu. Masih belum ada. Good, jadwal potong masih lama klo gitu. Wait, kenapa muka gw geser ke kiri? Wait, wait, kenapa gw pusing? Dan tiba2 aj badan gw condong ke kiri sampe tangan gw harus nahan ini badan makmur. Masalahnya tanga gw ke dinding pesawat. Haaaa? Kenapa ada tuasnya? Apa itu bisa kebuka buat kalo kecelakaan and orangnya pas di toilet? And ini kenapa pesawat miring2 terus? Gw harus cepet kelar! Uda nggak seru kalo pesawat jatuh and bakal  tambah nggak seru pula kalo gw lagi di dalem toileeeeeeeeeeeeet!!!! Infotainment bakal dapet bahan untuk sepuluh edisi ke depan! Gw g rela.


Dengan berat badan di kepala yang lebih lebih daripada perut gw waktu itu, gw langsung ngelarin proses rekresi and pencet tombol flush. G ada air lagi, langsung gw ambil tisu and pas uda kelar, wait, wait, wait, kenapa g ada tempat sampah?
...
...
...


Gw keluar toilet dengan susah payah--kayaknya harus mulai renang and diet lagi. Gw jalan di lorong itu kayak orang kalah judi and mabuk. Isi perut gw uda mulai naik lagi. Doooh, mana si ini seat 10 D? Got it! Langsung gw duduk and gw minum air putih yang gw bawa sendiri buat neken apa aj yang uda mau keluar lewat mulut gw.


OMG! Gw coba nenangin diri and berhasil. Pas tenang itu gw sadar kalo wajar aj itu para pramugari kalo aneh2 kelakuannya di pesawat. Secara isi perutnya mesti uda sering mau naik tp mereka harus tetep senyum g jelas kesana kesini. Akhirnya gw mengambil kesimpulan kalo gw harus lebih pengertian ke para pramugari2 walaupun mereka uda ngebuat dua sumpah gw langgar!!!


Kayaknya memang kita perlu ngerasain jadi seseorang buat ngerti gimana sebenarnya orang itu ya. Setelah gw  mikir gitu, pesawat landing and jujur, that was the worse landing I have ever had. Serasa main trampolin tapi karetnya dari baja! JedoooooooG!!!!!!!! Nggggiiiiiiiiiiiiiiiik!!!!!
Hampir semua penumpang meningkat kadar keimannya:


"Ya Allah."
"Astaghfirullah."
"Allahuakbar."


Dan semuanya pengangan tangan ke kursi depan mereka.


Phhheeeewwww.....


Abis itu gw denger ucapan terimakasih for flying with them. That's it? G ada permintaan maaf karena ngejedug2in ini pesawat? Well, maybe they think that they have done a good job for keeping everyone alive throughout the flight. Well, throughout the flight indeed,...but not the landing!!!
Mungkin gw juga harus ada di kursi pilot biar gw ngetiin betapa beratnya kerjaan mereka kayak pengalaman gw tadi pipis yang bisa bikin gw ngertiin para pramugari.


Anw, hal yang pertama yang gw lakuin setelah masuk gedung airport adalah mencari tempat sampah. Begitu ketemu, gw rogoh kantong jaket gw and gw buang tisu dari toilet tadi...


L
O
L




















Read On 5 comments

ANTARA--part III (end)

10:53 AM
“Silahkan duduk.” Kata si nenek.
Aku duduk bersila  setelah melepaskan sepatuku. Dadaku tiba-tiba berdetak kencang.
“Ini Jana. Ini nak Alek. Dia ingin berbicara dengan mantan pacarnya.” Nenek itu menjelaskan apa yang terjadi.
“Apakah saya akan ditinggal berdua dengan Jana?”
“TIDAK!” Nenek itu berkata cepat dan menoleh ke arahku.
“Tapi, saya ingin pembicaraan pribadi karena…”’
“TIDAK!”
“Nenek harus ada disini untuk menjaga Jana ketika dia dirasuki dan ketika dia ditinggal.”
Aku rasa apa yang dia katakana ada hubungannya dengan alasan aku kesini. Wawan memberitahuku kalau ada kasus seorang laki-laki datang kemari untuk berbicara dengan kekasihnya yang sudah meninggal. Dia membayar banyak ke nenek Jana untuk meninggalkan mereka berdua. Lalu ketika Jana dirasuki oleh arwahpacarnya yang sudah meninggal, laki-laki itu mengajak Jana secara fisik dan pacarnya secara psikis untuk berhubungan badan. Dan setelah itu menurut kabar dari orang-orang disini, Jana menjadi pemberontak neneknya. Dan dia juga menjadi tambah aneh. Dan lalu aku berpikir ke keadaan sekarang.
Tiba-tiba saja aku merasa terancam dan merasa harus menyelamatkan diri. Aku bermaksud untuk berdiri dan menuju ke kamar mandi tetapi tanganku ditarik oleh Jana!!!
Genggamannya kuat. Wajahku yang panik aku alihkan ke arah tangannya dan bisa kulihat urat-urat punggung tangannya yang berwarna ungu menegang. Tangankupun sakit. Namun aku tidak berusaha untuk menariknya karena stengah diriku penasaran dengan apa yang akan terjadi. Paling tidak aku tahu aku mendapatkan bahan untuk tulisanku…kalau aku keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup!!!
“Langsung wae, Jana.” Aku menoleh ke arah nenek di sebelah kananku yang mengatakan sesuatu dalam bahasa Jawa. Langsung? Langsung apanya?
“Mm,..bukannya saya perlu memberi tahu dulu siapa mantan pacar saya?” Tanyaku ke si nenek. Dia tersenyum sinis.
“Jana sudah tahu.”
“Tapi…”
“Sudah! Diam saja! Jana sudah tahu!” Suaranya meninggi dan saat itu aku mulai benar-benar khawatir!
Aku seperti orang bodoh dan aku juga merasa menjadi kolumnis paling bodoh sedunia yang menaruh resiko ke nyawaku sendiri tanpa pertimbangan jauh. Aku memandang Jana dengan ketakutan yang amat sangat. Aku penulis kolom misteri tetapi aku menjadi sangat penakut saat itu. Aku tidak percaya akan semua ini.
Aku memutuskan untuk menundukkan kepala. Apakah ini saat yang tepat untuk kembali percaya Tuhan?
Tanganku terangkat. Bukan untuk memohon pertolongan Tuhan, tetapi karena ditarik Jana yang bisa langsung berdiri dari posisi bersila. Rok hitam panjangnya tergerai menutupi kakinya. Terlihat olehku kuku jari kakinya yang hitam. Dan pandanganku naik ke atas sampai ke lehernya dengan kalung silver yang karatan. Dan lalu kalung itu maju karena dadanya membusung disertai suara tulang patah. Kepalanya terbawa kebelakang dan rambutnya tersentak. Apakah dia akan terbang? Dan memuntahkan cairan hijau? Aku hanya terbayang kengerian di film THE EXORCIST. Tapi tidak ada apa-apa terjadi. Aku menoleh ke arah di sebelah kanan untuk melihat si nenek. Dia tetap duduk bersila menata pahit apa yang sedang terjadi waktu itu. Aku menoleh ke arah Jana dan dihadapkan dengan wajahnya dalam jarak lima centimeter!!!
Aku terhenyak! Aku mundur dan mencoba menarik tanganku. Aku gagal. Kuat sekali genggaman tangan Jana. Ini mustahil!!! Arwah siapa yang merasuki Jana? Manatan pacarku masih hidup di Jakarta!!! Aku sudah berbohong kemereka untuk mendapatkan berita ini. Mantan pacarku masih hidup dan meninggalkanku bersenang-senang denagn cukong tua Mangga Dua. “NICE!!!” dan bagaimana dengan aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan? Aku terperangkap dalam situasi yang mengancam hidupku. Kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya, pastilah nenek Jana akan marah dan mungkinkah aku akan menyaksikan seberapa jahat nenek ini?
“Mas,…”
Seluruh bulu-buku di badanku bergidik mendengar Jana memanggilku. Matanya sangat bernafsu! Aku takut! Aku sangat takut! Lalu mimik mukanya berubah. Ada apa ini? Kenapa dengan pelan-pelan ujung alisnya bertemu, matanya menyipit dan bibirnya tergigit?”
“Maaf.” Kata Jana.
“Maaf, mas. Aku salah. Aku merasa rendah meninggalkanmu demi uang.”
“Apa? Aku..ak..” AKu tidak tahu apa yang harus aku katakana. Genggaman tangan Jana melemah dn kemudian terlepas. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang terisak pelan kemudian keras. Dan badannya lemas. Kepalanya condong ke arahku dan jatuh mendarat ke pundak kiriku.
“Aku tersiksa, Mas. Aku tidak tahan dengan laki-laki itu. Dia sakit.”
Jana terisak dan aku tidak tahu harus bagaimana. Kepalanya semakin dekat dengan leherku dan bisa aku rasakan basah air matanya di kulit leherku. Aku juga merasakan hidungnya naik ke telingaku dan lalu bibirnya.
“Aku tahu mas berbohong. Aku akan menggigit telingan kiri mas sedikit dan aku ingin mas lari secepatnya keluar dari tempat dan jangan kembali lagi karena nenek berbahaya!”
Aku belum bisa mencerna apa yang Jana bisikkan ke telingaku ketika aku merasakan sakit luar biasa di telinga kiriku.
“Aaaaaaaaaaaaaaarrgggggghh!!!” Aku berteriak dan segera mundur untuk menuju ke pintu. Aku sempat melihat Jana terjatuh atau lebih tepatnya menjatuhkan diri ke lantai. Aku panik. Aku ingat apa yang dia bisikkan ke tingaku dan aku akan melakukannya. Ketika aku berbalik badan, aku liaht nenek Jana berdiri dengan wajah seram dan mata tajam jahat!
“Sudah selesai, nak?” Tanyanya dengan suara datar. Tiba-tiba saja aku mendengar suara keras terbentur ke dinding. Aku dan si nenek melihat ke arah Jana yang mengahantamkan dirinya ke tembok.
“Janaaaaaaaa,…wong wadon goblok!!!!!” Neneknya berteriak sambil setengah berlari untuk menghentikan apa yang dilakukan Jana terhadap dirinya.
“Goblok! Goblok! Nek kowe loro ora iso kerjo! Meh mangan opo kowe?” Nenek Jana mengatakan kalimat-kalimat itu sambil memukuli Jana habis-habisa dan menariknya ke tengah ruangan untuk menghadapi aku yang segera tidak ada disana setelah menjebol pintu dari anyaman jerami itu.
Dan ditengah sawah pun aku serasa masih bisa mendengarkan teriakan wanita. Entah itu Jana atau neneknya. Dengan terengah-engah aku sampai di tempat mobil sewaanku parkir. Aku membangunkan si driver dan memaksanya ngebut sampai ke kota.

--Je--
Read On 3 comments

ANTARA--part II

9:25 PM
Nenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa saat keluar ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Aku sempat berpikir bahwa mungkin hampir semua tamu yang datang meminta kopi dan oleh karena itulah dia juga menghidangkan kopi untukku. Tapi aku juga sempat menduga-duga bahwa sebenarnya Jana yang sedang ada di dalam rumah sudah tahu apa seleraku dan memberitahukannya kepada neneknya dan muncullah dia dengan secangkir kopi panas sesuai selereaku.  Aku memang tidak pernah menaruh gula kedalam kopiku. Kopiku pahit. Karena beberapa orang juga megatakan begitulah caraku berbicara.
“Silahkan diminum, nak Alek. “ Akupun mencicipi panasnya kopi pahit itu dan merasakan ada sesuatu disana yang membuatku tidak menurunkan cangkir kopi itu untuk meminumnya lagi.
“Mau berbicara dengan siapa?”
“Dengan Jana, Nek.”
“Iya, mau bicara dengan siapa?”
“Dengan Jana,…” Dan aku paham maksudnya setelah beberapa detik yang canggung dan wajah tanpa ekspresi dari nenek itu. “Mantan pacar saya, Nek.”
“Baik. Sudah selesai kopinya?”
Aku mengangguk dan menaruh cangkir kopiku yang masih penuh. “Business first then pleasure.” Pikirku.
Aku dibawa masuk ke dalam rumah yang benar-benar Jawa. Tidak ada alas lantai di ruangan dalamnya. Dindingnya beranyam jerami tradisional. Ada sebuah tempat air yang memuatku berpikir apa namanya. Kanti? Kandi? Kendi kalau tidak salah. Kandi atau apalah itu ada di atas sebuah meja kecil di jalur perjalananku ke entah kemana. Si nenek mengambil Kandi itu dan membuka sebuah pintu yang membawaku ke perasaan aneh. Ruangan itu remang-remang dan memaksa mataku untuk beradaptasi cepat. Di tengah prose situ aku melihat seorang duduk bersila di salah satu sisi dinding. Rambutnya panjang dan tertunduk menutupi wajahnya. Kedua tangannya bersandar lemas di paha kanan dan kirinya. Jemarinya terekat satu sama lain. Ketika mendengar aku masuk, wajahnya diangakat dan aku terhentak terdiam. Dia adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Aku harus mengakui kalau Tabitha pun kalah cantik. Atau harusnya aku berkata bahwa mereka ada di kelas yang berbeda. Tabitha adalah gadis remaja yang manis sedangkan jana adalah gadis yang lebih muda namun dengan kesan wanita dewasa yang natural. Dia tidak harus menguncir rambutnya atau memakai lipgloss. Rambut hitam tebal panjang lurusnya tergerai begitu saja tidak perlu mengatakan kepada dunia bahwa wajah yang dikelilinginya itu cantik. Bibirnya merah jambu segar seolah tanpa usaha untuk menarik perhatian orang yang melihatnya. Disaat aku bisa lebih mengontroldiri, aku akan mengatakan bibirnya sebenarnya tidak terlalu merah jambu. Kulitnya saja yang sangat pucat namun indah. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan dua keadaan yang biasanya bertentangan di seorang gadis..kulit pucat namun indah! Aku masih terpana dengan Jana ketika…
“Silahkan duduk.” Kata si nenek.
Aku duduk bersila  setelah melepaskan sepatuku. Dadaku tiba-tiba berdetak kencang.
“Ini Jana. Ini nak Alek. Dia ingin berbicara dengan mantan pacarnya.” Nenek itu menjelaskan apa yang terjadi.
“Apakah saya akan ditinggal berdua dengan Jana?”
“TIDAK!” Nenek itu berkata cepat dan menoleh ke arahku.
“Tapi, saya ingin pembicaraan pribadi karena…”’
“TIDAK!” 
Read On 2 comments

ANTARA--part I

7:48 PM
Writer's note: ANTARA adalah bagian dari cerita DARK JOURNALS--the series.



Perjalanan kali ini benar-benar melelahkanku. Aku harus menempuh perjalanan pesawat ke Jogja dan setelah itu ada orang suruhan Wawan—polisi buncit informanku—yang aku bayar untuk mengantarkanku jauh berjam-jam lamanya ke peadalaman daerah Sleman. (Aku yakin dia mengambil untung banyak dari bayaranku kepada driver yang sedang menyetir di depanku saat itu.
Terkahir kali aku ke Sleman, aku dihadapkan pada kasus seorang Dalang kerasukan yang dalam  kalimatnya sangat jujur , atau harus kukatakan vulgar. Dan sekarang aku menghadapi berita yang lain. Berita kali ini sama mistinya namun dalam hal yang berbeda. Kalo si Dalang kerasukan, korbanku yang satu ini malah MEMINTA untuk dirasuki.
Aku mendapat sebuah nama dari Wawan. Dia menceritakan tentang “Jana”, seorang gadis yang menginjak remaja. Usianya 12 tahun. Dan dia adalah perantara manusia di alam ini dengan alam lainnya.
Setelah beberapa kali tidur ayam, si driver membangunkanku di tengah-tengah sawah. Kepalaku yang sangat pening harus mencuri waktu untuk mencerna dimana aku berada waktu itu. Hawanya masih bersih, namun sangat panas. Aku turun dan menghabiskan botol air mineral yang aku beli beberapa jam yang lalu di kota. Setelah aku menjadi segar sedikit, si driver menghampiriku dan menunjuk ke suatu arah.
“DIsitu rumahnya. Saya tunggu sampai jam berapa?”
“Saya butuh penerjemah bahasa Jawa. Bisa bantu, kan?”
Dia menggeleng takut.
“Kenapa?”
“Saya takut.” Akunya dengan logat medok Jawa.
“Kan si Jana hanya seorang perantara. Dia tidak melakukan hal-hal yang jahat, kan?”
“Saya tidak takut dengan Jana. Neneknya!”
“Neneknya?”
“Saya tunggu di mobil ya, Pak.”
“Tapi,..perjanjiannya…” Dia tidak membiarkan aku menyelesaikan kalimatku. Dia langsung masuk mobil dan menguncinya. Belum pernah sebelumnya aku ditolak seperti ini.
Aku langsung menelpon Wawan dan bermaksud untuk memarahinya karena instruksiku waktu itu sudah sangat jelas. Aku ingin seorang supir dan penerjemah bahasa Jawa. Dan jelas-jelas dia menipuku. Aku segera berpikir tidak ada gunanya menelpon dia. Aku mengurungkan niatku dan memfokuskan diri untuk memburu berita.
Jadi saat itu aku sudah mengumpulkan beberapa informasi. Jana adalah seorang mediator yang terlalu dikontrol oleh neneknya. Yang aku tahu baru saja adalah bahwa neneknya menakutkan karena kegiatan jahatnya.
“Aaah,…aku tidak boleh terlalu percaya dengen berita tanpa fakta. Aku bukan kolumnis infotainment!” Pikirku dalam hati.
Aku mendekati rumah Jana melewati beberapa blok sawah. Dan akhirnya aku sudah berada tepat di depan rumah itu. Bangunan yang aku lihat sangatlah tradisional. Selain atap dari genteng, semuanya sangat tradisional dan serba kayu.
Aku mendekat ke pintu rumah itu dan mencoba mengetuknya. Ada suara yang mendahuluiku:
“Njih? Sekedap, njih.”’
Waduh!!! Bahasa Jawa!!!
Muncullah seorang nenek-nenek yang segera tersenyum ramah.
“Senyum yang menyembunyikan kejahatan? Rasanya tidak mungkin!” Pikirku.
“Oh, ada yang bisa saya bantu?”
Leganya aku mendengar adanya tanda-tanda peradaban dari penggunaan bahasa Indonesia itu.
“Nama saya Alex, Bu. Saya dari Jakarta.”
“Oh, iya, pak Alek. Silahkan masuk.”
Dan aku kembali dibawa kekebudayaan primitif masyarakat yang mengijinkan semua tamu walaupun yang belum dikenalnya untuk masuk. Kemudian aku berpikir bahwa ini karena perkerjaannya. Maksudku, pekerjaan cucunya.
“Silahkan duduk. Tunggu sebentar ya,Pak Alek.”
“Alex saja, Bu.”
“Iya, nak Alek.”
Nenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa saat keluar ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Aku sempat berpikir bahwa mungkin hampir semua tamu yang datang meminta kopi dan oleh karena itulah dia juga menghidangkan kopi untukku. Tapi aku juga semapt menduga-duga bahwa sebenarnya Jana yang sedang ada di dalam rumah sudah tahu apa seleraku dan memberitahukannya kepada neneknya dan muncullah dia dengan secangkir kopi panas sesuai selereaku.  Aku memang tidak pernah menaruh gula kedalam kopiku. Kopiku pahit. Karena beberapa orang juga megatakan begitulah caraku berbicara.
“Silahkan diminum, nak Alek. “ Akupun mencicipi panasnya kopi pahit itu dan merasakan ada sesuatu disana yang membuatku tidak menurunkan cangkir kopi itu untuk meminumnya lagi.
Read On 0 comments

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
There is a time in a man's life when he has to make a very important decision that will affect his future. For me,..it's writing this blog. ( Exaggerating is an art!!)

leave ur msg after the "beep". LOL.


ShoutMix chat widget
Count me in...