Showing posts with label DARK JOURNALS--the series. Show all posts
SERIUS
11:46 PM"Serius" adalah bagian dari DARK JOURNALS--the series
Aku sungguh salut mendengar cerita Wawan sore itu. Ingin rasanya aku bertemu dengan Nita-tokoh di cerita Wawan dan memberinya selamat walau sekarang dia sedang ada di penjara.
Polisi buncit informanku itu—Wawan—mengirimkan sebuah pesan pendek ke hapeku untuk bertemu. Buatku, bertemu dengannya adalah mengorbankan dua ratus ribu rupiah untuk sebuah cerita kejahatan yang lebih sering tidak lengkapnya daripada lengkapnya. Saat itu aku sedang mempertimbangkan untuk menggunakan jasa informan lain, namun harus kuakui si polisi bincit itu mempunyai akses yang kemana-mana jauhnya. Terbukti dari beberapa kasus yang sudah aku jadikan artikel di sebuah surat kabar sementara polisi sendiri belum resmi melakukan penyelidikan tentang itu. Ataukah polisi kita yang lamban?
Wawan memilih Excelso Kelapa Gading untuk pertemuannya kali ini. Dan didepannya sudah ada dua—bukan satu—tapi dua gelas kopi berkaramel dan se-cup blackberry muffin. Saat aku dating, dia sedang memesan makanan yang lain.
“Hahaha. Pas banget lo dateng. Pas banget buat gw ngerokok. Hahahaha. Bagi dong.”
Dan sebungkus rokok STARMILD ku pun tergeletak di meja kecil itu untuk segera dia palak.
“To the point aja, gua nggak ada waktu.”
“Hahaha. Always nggak ada waktu. Ada apa si sebenernya ma lo? Elo mesti dateng ngomong hal yang sama. Maaaan, gw kan nggak buang-buang waktu elo.”
Aku menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan tepat di wajah Wawan. Setelah keluar semua asap, aku menjawabnya dingin.
“Lo yakin lo mau gw nge-list down pengeluaran gw tiap kali kita ketemu?”
“Hahahahahaha. Uda nggak usa. Ntar lo repot. Hahhahaha.”
“Uda langsung aja.”
“OK. Eh lo nggak pesen minum?”
Aku memandang lurus ke mata Wawan.
“Ya uda. Gua langsung ya. Ini ni teknologi ni masalahnya. Apalagi kalo bukan facebook.”
“Mmm.”
“Ni gua buka BB gua ya. Hehehe. Gua bisa dapet BB gara-gara ketemu lo, nih.”
“Gua tabung duit-duit dari elo. Dapet deh ni BB. Ni asik lo. Elo yakin gak pake?”
“BB lo lama loadingnya?”
“Eh,..uda kok.Ni.”
Aku melihat nama YUANITA ROSA di layar BB nya. Cantik. Menarik. Sexy. Menggoda. Wanita bisa saja berfoto dengan pose wajah close up,memamerkan gigi putih yang sedang menggigit lidah menggoda dengan kedua mata menyipit. Tapi tampaknya dia memberikan arti pada sesuatu hal yang biasa kita sebut sex appeal.
“Lama banget litany. Demen lo? Hahahaha. Terus gw pingin elo liat ini.”Wawan menarik BB nya dan kemudian memencet-mencet keypadnya dan ketika dia menunjukkan BB nya lagi ke padaku, aku mulai berpikir jaraknya sudah tiga tahun.
“Sorry, baru soalnya. Hehehe. Tu liat ada account fb satu cowok yang namanya RENDRA. Dia tu bahannya si NITA.
Aku memandang Wawan dengan kepala sedikit kucondongkan kekiri atas.
“Gini. Si NITA itu browse-browse di fb. Dia nge-add cowok-cowok bening kayak si RENDRA itu. Ceritanya, dulu banget si NITA ngebet ni ma RENDRA. Cowok mana si yang nggak demen liat foto cewek gigit lidah gitu. Gigit lidah kalo dipikir-pikirkan mirip kayak lagi sakit step ya. Hahahhahahhahahahaha. Huk..huk.. Sorry.”
“Lompatin aj bagian gigit-gigit lidah. Anw, lo tau info ini dari siapa?”
“Ada cewek di bagian adminkantor polisi. Bodynya maaaaan,...” Wawan berhenti sejenak da menatap aku. “Harus gua lompatin juga bodynya?”
Pandanganku tetap dingin. “Man, elo gay kali ya. Well, anyway, balik ke masalah Nita, ya itulah kerjaannya. Dia deketin tu cowok-cowok yang modelnya kayak RENDRA. Dia ajakin ketemuan. And,...menurut laporannya si Rendra, dia si setelah beberapa kali ketemuan maunya fun aja and nggak ada yang serius gitu. Nita juga kayaknya ngasi kesan yang sama...awalnya. Kebelakang-belakangnya, mulai deh yang macem-macem mintanya. Standard aja sih sebenernya ceritanya. Sampe akhirnya si Rendra masa bodo amat deh ama itu cewek. Ditinggalinlah dengan cara yang nggak enak biar itu cewek nggak balik lagi.” Wawan dia sebentar dan itu sangat menggangguku. Dia seharusnya menyelesaian cerita itu dan bukannya menyalakan rokok yang menjadi salah satu sogokanku dan menghisapnya dalam-dalam seolah-oleh itulah angin buatnya yang sudah bertaun-taun terperangkap di ruang hampa udara.
“Terus?”
“Bentaaaar.”
Ini sangat menyebalkan buatku.
“Trus udah dong si Rendra mikir ya udah kelar. Nita nggak bakal ngeganggu lagi dong.”
“But...”
“But,...she come back. Hehehe. Bener nggak grammar gua?”
Aku diam saja. Wawan akhirya melanjutkan ceritanya.
“Ya udah gitu aja awalnya. Si Rendra balik fb-an and twitteran and uda dapet fans-fans baru cewek-cewek yang dia ajak kenalan and kopi darat. Wah, bahasa gua delapan puluhan banget ya. Hehehehe.”
Filler-filler seperti ini yang membuatku mereasa membuang-buang waktuku.
“Anehnya adalah-dan keanehan ini disadarin Rendra setelah Nita ketangkep polisi-semua cewek yang diajakin Rendra ketemuan pada nggak mau. Yang ada mereka malah sayang-sayangan di fb. Cinta-cintaan abis deh. Pada komen ke setiap status yang Rendra bikin, pada nulis di wall nya si Rendra, pada “like” statusnya Rendra yang padahal menurut Rendranya sendiri nggak mutu kayak “males”, “pusing”, “bĂȘte”. Eh, anyway, elo paham kan istilah-istilah per-fb-an?”
Pandangan mataku lurus ke mata Wawan dan wajahku tidak memasang satu ekspresipun.
“Sampe ni suatu saat pada betengkar di wall-nya Rendra gara-gara masalah simple. Uda dong si rendr ngearasa aneh. Aneh lagi karena cewek-cewek itu pada nyebut-nyebut soal ukuran itunya Rendra di FB. Langsung lah dia blok itu cewek-cewek. Rendranya ngerasa seneng direbutin tapi malu juga kan kalo dibilang seukuran tusuk gigi yang nggak tajem? Hahahahaha. Keren deh komennya. Cewek-cewek ngeres kayak gitu yang gua demen. Blak-blakan soal seks. Hahahaha.”
“Terus?”
“Terus dasarnya si Rendra ini nge-add sapa aja yang minta di-add, muncullah macem-macem masalah. Ada cowok-cowok yang di profilenya ge-band, kan rendra anak band juga tuh, eh tau-tau setelah beberapa bulan, fotonya jadi cewek and infonya juga berubah and mulailah ngata-ngatain si rendra lagi di wall. Rendra and temen-temennya pada bingung and you know what, Rendra ke temennya yang lumayan pinter soal internet-internetan gitu. Dikasi lah account and passwordnya Rendra ke dia and you know what, ini temen bilang gak ada yang aneh dari account-account orang yang ngancurin FB nya Rendra. Si temen itu ngusulin si Rendra...”
Dan aku tidak percaya kenapa Wawan berhenti di tengah-tengah cerita tanpa aturan seperti ini untuk meminum kopinya!!!
“Si temen nyuruh Rendra untuk bikin yang FB yang baru. Fb nya yang lama dikasi ke temennya untuk diselidi katanya. Hebat ya orang-orang yang bisa paham banget internetan kayak begituan?”
Dalam hati aku berkata bahwa akulah yang hebat karena bisa bersabar menghadapi dia!
“Ni yang seru nih. Temennya suatu saat pas online di chat FB, ketemu sama salah satu cewek yang annoying itu. Ngobrolah mereka. Pas ngobrol itu, somehow dengan kepintarannya si temen, dia bisa tau IP address si cewek untuk ditelusuri alamatnya. Tau tuh dia punya koneksi orang mana. Dia ngelakuin hal yang kayak gitu ke beberapa orang yang ada di account FB nya si Rendra. And you kow what, selama sebulan dia sempat chat ama 30an cewek dan semuanya punya IP address yang sama!”
“Ini kopi enak banget sih. Seger.”
“Itu caramel.”
“Oohh..”
“And cerita lo belum kelar.”
“Hahahaha. Well, uda ampir kelar kok. Si temen lapor ke Rendra and si Rendra lapor ke polisi. Baru hari ini keluar penyelidikan kalo Nita itu otaknya semua gangguan-gangguan di FB Rendra. Tau gak, selama ini dua uda bikin 57 email, 36 account FB and YM and semuanya hanya buat connect ke Rendra. Pas denger ini, kata informan gua, si Rendranya diem nggak bisa ngomong apa-apa.”
Dalam hati aku akan melakukan yag sama dengan Rendra.
“Gua Cuma ngebayangin niatnya ini cewek. You kow what, gua cek sendiri beberapa FB aliasnya si Nita. Semuanya kayak bener-bener orang beneran. Kerjaannya variatif, perusahaannya beda-beda. Ada beberapa yang ke link jadi temen and ada bebrapa yang nggak. Gua cek lewat FB-nya Rendra,...status-statusnya bener-bener nggak ada yang aneh. Ada status yang lagi sedih, seneng, soal kerjaan, cinta, eluarga, bener-bener kayak fb orang-orang yang bener aja.”
Walaupun aku tidak menunjukkannya, akhir dari percakapan itu membuatku merinding. Sehebat itukah Rendra? Sekuat itukah cinta Nita? Atau dia hanya sakit? Wawan benar bahwa cinta yang mulanya standard bisa berakhir di luar dugaan.
Di depan netbook HP ku aku memikirkan sebuah kalimat untuk membuka ceritaku. Aku mendapatkannya.
“Apa anda kenal semua teman di facebook anda?”
--Je--
ANTARA--part III (end)
10:53 AM“Silahkan duduk.” Kata si nenek.
Aku duduk bersila setelah melepaskan sepatuku. Dadaku tiba-tiba berdetak kencang.
“Ini Jana. Ini nak Alek. Dia ingin berbicara dengan mantan pacarnya.” Nenek itu menjelaskan apa yang terjadi.
“Apakah saya akan ditinggal berdua dengan Jana?”
“TIDAK!” Nenek itu berkata cepat dan menoleh ke arahku.
“Tapi, saya ingin pembicaraan pribadi karena…”’
“TIDAK!”
“Nenek harus ada disini untuk menjaga Jana ketika dia dirasuki dan ketika dia ditinggal.”
Aku rasa apa yang dia katakana ada hubungannya dengan alasan aku kesini. Wawan memberitahuku kalau ada kasus seorang laki-laki datang kemari untuk berbicara dengan kekasihnya yang sudah meninggal. Dia membayar banyak ke nenek Jana untuk meninggalkan mereka berdua. Lalu ketika Jana dirasuki oleh arwahpacarnya yang sudah meninggal, laki-laki itu mengajak Jana secara fisik dan pacarnya secara psikis untuk berhubungan badan. Dan setelah itu menurut kabar dari orang-orang disini, Jana menjadi pemberontak neneknya. Dan dia juga menjadi tambah aneh. Dan lalu aku berpikir ke keadaan sekarang.
Tiba-tiba saja aku merasa terancam dan merasa harus menyelamatkan diri. Aku bermaksud untuk berdiri dan menuju ke kamar mandi tetapi tanganku ditarik oleh Jana!!!
Genggamannya kuat. Wajahku yang panik aku alihkan ke arah tangannya dan bisa kulihat urat-urat punggung tangannya yang berwarna ungu menegang. Tangankupun sakit. Namun aku tidak berusaha untuk menariknya karena stengah diriku penasaran dengan apa yang akan terjadi. Paling tidak aku tahu aku mendapatkan bahan untuk tulisanku…kalau aku keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup!!!
“Langsung wae, Jana.” Aku menoleh ke arah nenek di sebelah kananku yang mengatakan sesuatu dalam bahasa Jawa. Langsung? Langsung apanya?
“Mm,..bukannya saya perlu memberi tahu dulu siapa mantan pacar saya?” Tanyaku ke si nenek. Dia tersenyum sinis.
“Jana sudah tahu.”
“Tapi…”
“Sudah! Diam saja! Jana sudah tahu!” Suaranya meninggi dan saat itu aku mulai benar-benar khawatir!
Aku seperti orang bodoh dan aku juga merasa menjadi kolumnis paling bodoh sedunia yang menaruh resiko ke nyawaku sendiri tanpa pertimbangan jauh. Aku memandang Jana dengan ketakutan yang amat sangat. Aku penulis kolom misteri tetapi aku menjadi sangat penakut saat itu. Aku tidak percaya akan semua ini.
Aku memutuskan untuk menundukkan kepala. Apakah ini saat yang tepat untuk kembali percaya Tuhan?
Tanganku terangkat. Bukan untuk memohon pertolongan Tuhan, tetapi karena ditarik Jana yang bisa langsung berdiri dari posisi bersila. Rok hitam panjangnya tergerai menutupi kakinya. Terlihat olehku kuku jari kakinya yang hitam. Dan pandanganku naik ke atas sampai ke lehernya dengan kalung silver yang karatan. Dan lalu kalung itu maju karena dadanya membusung disertai suara tulang patah. Kepalanya terbawa kebelakang dan rambutnya tersentak. Apakah dia akan terbang? Dan memuntahkan cairan hijau? Aku hanya terbayang kengerian di film THE EXORCIST. Tapi tidak ada apa-apa terjadi. Aku menoleh ke arah di sebelah kanan untuk melihat si nenek. Dia tetap duduk bersila menata pahit apa yang sedang terjadi waktu itu. Aku menoleh ke arah Jana dan dihadapkan dengan wajahnya dalam jarak lima centimeter!!!
Aku terhenyak! Aku mundur dan mencoba menarik tanganku. Aku gagal. Kuat sekali genggaman tangan Jana. Ini mustahil!!! Arwah siapa yang merasuki Jana? Manatan pacarku masih hidup di Jakarta!!! Aku sudah berbohong kemereka untuk mendapatkan berita ini. Mantan pacarku masih hidup dan meninggalkanku bersenang-senang denagn cukong tua Mangga Dua. “NICE!!!” dan bagaimana dengan aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan? Aku terperangkap dalam situasi yang mengancam hidupku. Kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya, pastilah nenek Jana akan marah dan mungkinkah aku akan menyaksikan seberapa jahat nenek ini?
“Mas,…”
Seluruh bulu-buku di badanku bergidik mendengar Jana memanggilku. Matanya sangat bernafsu! Aku takut! Aku sangat takut! Lalu mimik mukanya berubah. Ada apa ini? Kenapa dengan pelan-pelan ujung alisnya bertemu, matanya menyipit dan bibirnya tergigit?”
“Maaf.” Kata Jana.
“Maaf, mas. Aku salah. Aku merasa rendah meninggalkanmu demi uang.”
“Apa? Aku..ak..” AKu tidak tahu apa yang harus aku katakana. Genggaman tangan Jana melemah dn kemudian terlepas. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang terisak pelan kemudian keras. Dan badannya lemas. Kepalanya condong ke arahku dan jatuh mendarat ke pundak kiriku.
“Aku tersiksa, Mas. Aku tidak tahan dengan laki-laki itu. Dia sakit.”
Jana terisak dan aku tidak tahu harus bagaimana. Kepalanya semakin dekat dengan leherku dan bisa aku rasakan basah air matanya di kulit leherku. Aku juga merasakan hidungnya naik ke telingaku dan lalu bibirnya.
“Aku tahu mas berbohong. Aku akan menggigit telingan kiri mas sedikit dan aku ingin mas lari secepatnya keluar dari tempat dan jangan kembali lagi karena nenek berbahaya!”
Aku belum bisa mencerna apa yang Jana bisikkan ke telingaku ketika aku merasakan sakit luar biasa di telinga kiriku.
“Aaaaaaaaaaaaaaarrgggggghh!!!” Aku berteriak dan segera mundur untuk menuju ke pintu. Aku sempat melihat Jana terjatuh atau lebih tepatnya menjatuhkan diri ke lantai. Aku panik. Aku ingat apa yang dia bisikkan ke tingaku dan aku akan melakukannya. Ketika aku berbalik badan, aku liaht nenek Jana berdiri dengan wajah seram dan mata tajam jahat!
“Sudah selesai, nak?” Tanyanya dengan suara datar. Tiba-tiba saja aku mendengar suara keras terbentur ke dinding. Aku dan si nenek melihat ke arah Jana yang mengahantamkan dirinya ke tembok.
“Janaaaaaaaa,…wong wadon goblok!!!!!” Neneknya berteriak sambil setengah berlari untuk menghentikan apa yang dilakukan Jana terhadap dirinya.
“Goblok! Goblok! Nek kowe loro ora iso kerjo! Meh mangan opo kowe?” Nenek Jana mengatakan kalimat-kalimat itu sambil memukuli Jana habis-habisa dan menariknya ke tengah ruangan untuk menghadapi aku yang segera tidak ada disana setelah menjebol pintu dari anyaman jerami itu.
Dan ditengah sawah pun aku serasa masih bisa mendengarkan teriakan wanita. Entah itu Jana atau neneknya. Dengan terengah-engah aku sampai di tempat mobil sewaanku parkir. Aku membangunkan si driver dan memaksanya ngebut sampai ke kota.
--Je--
ANTARA--part II
9:25 PMNenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa saat keluar ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Aku sempat berpikir bahwa mungkin hampir semua tamu yang datang meminta kopi dan oleh karena itulah dia juga menghidangkan kopi untukku. Tapi aku juga sempat menduga-duga bahwa sebenarnya Jana yang sedang ada di dalam rumah sudah tahu apa seleraku dan memberitahukannya kepada neneknya dan muncullah dia dengan secangkir kopi panas sesuai selereaku. Aku memang tidak pernah menaruh gula kedalam kopiku. Kopiku pahit. Karena beberapa orang juga megatakan begitulah caraku berbicara.
“Silahkan diminum, nak Alek. “ Akupun mencicipi panasnya kopi pahit itu dan merasakan ada sesuatu disana yang membuatku tidak menurunkan cangkir kopi itu untuk meminumnya lagi.
“Mau berbicara dengan siapa?”
“Dengan Jana, Nek.”
“Iya, mau bicara dengan siapa?”
“Dengan Jana,…” Dan aku paham maksudnya setelah beberapa detik yang canggung dan wajah tanpa ekspresi dari nenek itu. “Mantan pacar saya, Nek.”
“Baik. Sudah selesai kopinya?”
Aku mengangguk dan menaruh cangkir kopiku yang masih penuh. “Business first then pleasure.” Pikirku.
Aku dibawa masuk ke dalam rumah yang benar-benar Jawa. Tidak ada alas lantai di ruangan dalamnya. Dindingnya beranyam jerami tradisional. Ada sebuah tempat air yang memuatku berpikir apa namanya. Kanti? Kandi? Kendi kalau tidak salah. Kandi atau apalah itu ada di atas sebuah meja kecil di jalur perjalananku ke entah kemana. Si nenek mengambil Kandi itu dan membuka sebuah pintu yang membawaku ke perasaan aneh. Ruangan itu remang-remang dan memaksa mataku untuk beradaptasi cepat. Di tengah prose situ aku melihat seorang duduk bersila di salah satu sisi dinding. Rambutnya panjang dan tertunduk menutupi wajahnya. Kedua tangannya bersandar lemas di paha kanan dan kirinya. Jemarinya terekat satu sama lain. Ketika mendengar aku masuk, wajahnya diangakat dan aku terhentak terdiam. Dia adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Aku harus mengakui kalau Tabitha pun kalah cantik. Atau harusnya aku berkata bahwa mereka ada di kelas yang berbeda. Tabitha adalah gadis remaja yang manis sedangkan jana adalah gadis yang lebih muda namun dengan kesan wanita dewasa yang natural. Dia tidak harus menguncir rambutnya atau memakai lipgloss. Rambut hitam tebal panjang lurusnya tergerai begitu saja tidak perlu mengatakan kepada dunia bahwa wajah yang dikelilinginya itu cantik. Bibirnya merah jambu segar seolah tanpa usaha untuk menarik perhatian orang yang melihatnya. Disaat aku bisa lebih mengontroldiri, aku akan mengatakan bibirnya sebenarnya tidak terlalu merah jambu. Kulitnya saja yang sangat pucat namun indah. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan dua keadaan yang biasanya bertentangan di seorang gadis..kulit pucat namun indah! Aku masih terpana dengan Jana ketika…
“Silahkan duduk.” Kata si nenek.
Aku duduk bersila setelah melepaskan sepatuku. Dadaku tiba-tiba berdetak kencang.
“Ini Jana. Ini nak Alek. Dia ingin berbicara dengan mantan pacarnya.” Nenek itu menjelaskan apa yang terjadi.
“Apakah saya akan ditinggal berdua dengan Jana?”
“TIDAK!” Nenek itu berkata cepat dan menoleh ke arahku.
“Tapi, saya ingin pembicaraan pribadi karena…”’
“TIDAK!”
ANTARA--part I
7:48 PM
Writer's note: ANTARA adalah bagian dari cerita DARK JOURNALS--the series.
Perjalanan kali ini benar-benar melelahkanku. Aku harus menempuh perjalanan pesawat ke Jogja dan setelah itu ada orang suruhan Wawan—polisi buncit informanku—yang aku bayar untuk mengantarkanku jauh berjam-jam lamanya ke peadalaman daerah Sleman. (Aku yakin dia mengambil untung banyak dari bayaranku kepada driver yang sedang menyetir di depanku saat itu.
Terkahir kali aku ke Sleman, aku dihadapkan pada kasus seorang Dalang kerasukan yang dalam kalimatnya sangat jujur , atau harus kukatakan vulgar. Dan sekarang aku menghadapi berita yang lain. Berita kali ini sama mistinya namun dalam hal yang berbeda. Kalo si Dalang kerasukan, korbanku yang satu ini malah MEMINTA untuk dirasuki.
Aku mendapat sebuah nama dari Wawan. Dia menceritakan tentang “Jana”, seorang gadis yang menginjak remaja. Usianya 12 tahun. Dan dia adalah perantara manusia di alam ini dengan alam lainnya.
Setelah beberapa kali tidur ayam, si driver membangunkanku di tengah-tengah sawah. Kepalaku yang sangat pening harus mencuri waktu untuk mencerna dimana aku berada waktu itu. Hawanya masih bersih, namun sangat panas. Aku turun dan menghabiskan botol air mineral yang aku beli beberapa jam yang lalu di kota. Setelah aku menjadi segar sedikit, si driver menghampiriku dan menunjuk ke suatu arah.
“DIsitu rumahnya. Saya tunggu sampai jam berapa?”
“Saya butuh penerjemah bahasa Jawa. Bisa bantu, kan?”
Dia menggeleng takut.
“Kenapa?”
“Saya takut.” Akunya dengan logat medok Jawa.
“Kan si Jana hanya seorang perantara. Dia tidak melakukan hal-hal yang jahat, kan?”
“Saya tidak takut dengan Jana. Neneknya!”
“Neneknya?”
“Saya tunggu di mobil ya, Pak.”
“Tapi,..perjanjiannya…” Dia tidak membiarkan aku menyelesaikan kalimatku. Dia langsung masuk mobil dan menguncinya. Belum pernah sebelumnya aku ditolak seperti ini.
Aku langsung menelpon Wawan dan bermaksud untuk memarahinya karena instruksiku waktu itu sudah sangat jelas. Aku ingin seorang supir dan penerjemah bahasa Jawa. Dan jelas-jelas dia menipuku. Aku segera berpikir tidak ada gunanya menelpon dia. Aku mengurungkan niatku dan memfokuskan diri untuk memburu berita.
Jadi saat itu aku sudah mengumpulkan beberapa informasi. Jana adalah seorang mediator yang terlalu dikontrol oleh neneknya. Yang aku tahu baru saja adalah bahwa neneknya menakutkan karena kegiatan jahatnya.
“Aaah,…aku tidak boleh terlalu percaya dengen berita tanpa fakta. Aku bukan kolumnis infotainment!” Pikirku dalam hati.
Aku mendekati rumah Jana melewati beberapa blok sawah. Dan akhirnya aku sudah berada tepat di depan rumah itu. Bangunan yang aku lihat sangatlah tradisional. Selain atap dari genteng, semuanya sangat tradisional dan serba kayu.
Aku mendekat ke pintu rumah itu dan mencoba mengetuknya. Ada suara yang mendahuluiku:
“Njih? Sekedap, njih.”’
Waduh!!! Bahasa Jawa!!!
Muncullah seorang nenek-nenek yang segera tersenyum ramah.
“Senyum yang menyembunyikan kejahatan? Rasanya tidak mungkin!” Pikirku.
“Oh, ada yang bisa saya bantu?”
Leganya aku mendengar adanya tanda-tanda peradaban dari penggunaan bahasa Indonesia itu.
“Nama saya Alex, Bu. Saya dari Jakarta.”
“Oh, iya, pak Alek. Silahkan masuk.”
Dan aku kembali dibawa kekebudayaan primitif masyarakat yang mengijinkan semua tamu walaupun yang belum dikenalnya untuk masuk. Kemudian aku berpikir bahwa ini karena perkerjaannya. Maksudku, pekerjaan cucunya.
“Silahkan duduk. Tunggu sebentar ya,Pak Alek.”
“Alex saja, Bu.”
“Iya, nak Alek.”
Nenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa saat keluar ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Aku sempat berpikir bahwa mungkin hampir semua tamu yang datang meminta kopi dan oleh karena itulah dia juga menghidangkan kopi untukku. Tapi aku juga semapt menduga-duga bahwa sebenarnya Jana yang sedang ada di dalam rumah sudah tahu apa seleraku dan memberitahukannya kepada neneknya dan muncullah dia dengan secangkir kopi panas sesuai selereaku. Aku memang tidak pernah menaruh gula kedalam kopiku. Kopiku pahit. Karena beberapa orang juga megatakan begitulah caraku berbicara.
“Silahkan diminum, nak Alek. “ Akupun mencicipi panasnya kopi pahit itu dan merasakan ada sesuatu disana yang membuatku tidak menurunkan cangkir kopi itu untuk meminumnya lagi.
It's in the HOW
9:14 AM
***Writer's note: It's in the HOW" adalah salah satu cerita dari DARK JOURNALS--the series
“Kematian yang menarik adalah bagaimana peristiwa itu terjadi, bukan kapan, bukan dimana, bukan kenapa dan bukan siapa!”
Aku memilih kalimat pembuka sebuah kelas menulis novel oleh seorang penulis terkenal yang pernah aku ikuti workshopnya. Aku memutuskan untuk menulis tentang salah satu sesi yang aku ikuti ini dan akan aku kirimkan ke editorku. Tulisan ini akan menjadi artikel DARK JOURNALS yang aku asuh di suatu surat kabar ibu kota.
Kalimat pertama tadi membuatku berpikir sampai sekarang. Menurutku dia benar. Menurutku dia benar sekali.
“ Seseorang penting di negara ini yang meninggal di pagi-pagi buta karena di dorong dari atap ketiga belas sebuah gedung yang belum selesai oleh saingan bisnisnya bisa saja menjadi berita. Dan berita itu akan menarik.
“Mari kita coba cara lain untuk membunuhnya. Kalau anda mendorong dia, kematiannya akan cepat dan tidak begitu berkesan untuk pembaca. Seorang businessman yang curang atau dicurangi adalah hal yang biasa bukan? Tetapi apabila dia sampai terbunuh dengan tragis dan menarik perhatian masyarakat, itu baru luar biasa. Let’s see….
“Saya ingin anda menulis lima hal yang berakitan dengan kata “businessman”.
Semua peserta kursus itu menggerakkan pensil atau pulpen mereka. Ada yang langsung menulis di atas kertas dan ada juga yang mengetuk-ngetukkannya di pipi atau dahi mereka. Ketika semuanya selesai, si penulis di depan ruangan itu bertanya:
“Apa yang menjadi nomor satu di daftar anda?”
“Uang.” Beberapa peserta menjawab hal yang sama di waktu yang hampir bersamaan pula.
“OK. Uang. Money. Now, ANDA adalah pembunuhnya. ANDA akan menggunakan uang untuk membuat pembunuhan anda menarik perhatian masyarakat. Apa yang anda lakukan dengan uang itu?”
Si penulis membagi 15 peserta kedalam 5 grup untuk mendiskusikan ide-ide mereka. Setelah beberapa saat, dia mengumpulkan jawaban-jawaban yang ada.
“Grup 1, apa yang akan anda lakukan dengan uang itu?”
“Disumpalkan ke mulut korban?”
“Dan berapa cerita sejenis yang menulis tentang hal itu? Originalitas. Originalitas. Grup 2?”
“Kami memutuskan untuk menutupi mukanya dengan uang yang kami tempelkan menggunakan isolasi.
“Dan ketika anda mendorong dia, angin akan melepaskan isolasi anda bukan? Lantai 13, orang-orang. Perhitungkan kecepatan angin. Grup 3, bagaimana dengan uangnya?”
“Diinfakkan?” Salah satu peserta dari grup itu membuat tawa riuh di ruangan. Semua orang terpikal-pikal kecuali si penulis.
“It’s a workshop for crime stories. Workshop cerita komedi di gedung sebelah!”
Tawa itu segera terhenti dengan seketika.
“Grup 3?”
“Ehm, ehm,..” setelah membersihkan tenggorokanku—walaupun aku dan si penulis adalah dua orang di ruangan itu yang tidak tertawa. Aku meneruskan kalimatku dengan dua jawaban.
“Boleh saya memeberikan dua jawaban? Satudari grup saya dan satu dari saya pribadi.”
Dia mengangguk.
“Jawaban dari grup saya adalah membunuhnya terlebih dahulu di lantai 13 dengan cara menusuk perutnya. Kemudian kami mengeluarkan isi perut itu dan memasukkan uang kedalam organ yang sudah kosong lalu menjatuhkannya.”
Beberapa peserta terlihat bergidik mendengar jawaban grupku.
Aku meneruskan kalimatku dengan pilihan jawaban pribadiku—yang menurut si penulis, dua hari setelah itu, membuatku menjadi partisipan dengan nilai terbaik. “
“Jawaban saya pribadi yang tampaknya tidak disetujui grup saya adalah, saya akan menebarkan banyak sekali uang dari lantai tiga belas. Walaupun masih pagi hari, saya yakin tetap ada orang-orang di bawah gedung. Mereka akan berebut untuk mendapatkan uang itu. Dan saat mereka semua menatap ke atas, saya akan mendorong korban jatuh kebawah.”
--Je--
TATTOO
4:03 AMAku tidak tahu kenapa orang masih saja memilih SOLARIA untuk tempat bertemu dengan orang lain. Wawan—polisi informan bayaranku—memilih tempat ini. Dari pintu restoran itu aku melihat perut buncit Wawan bergerak kesana kemari seolah akan tumpah kemana-mana. Laki-laki itu benar-benar membutuhkan exercise di gym!
“Heeeeey!” Sapaan yang lama dan menyebalkan dan sok cool yang sebenarnya tidak perlu keluar dari dia. Dia berusaha menjabat tanganku. Aku akhirnya mengulurkan tanganku yang kemudian diraihnya. Dia melakukan jabat tangan normal yang kemudian dilanjutkannya dengan cara jabat tangan anak muda atau atlit atau apalah sebutannya yang tidak sesuai dengan profilnya.
“Apa kabar lo?”
Aku hanya bergumam. Dia tertawa serak khas perokok dan kemudian bertanya:
“Uda pesen?”
Aku menggeleng saja dan menghisap rokok Starmildku.
Dan Wawan tertawa. Tampaknya tertawa adalah solusi dari semua masalahnya yang aku yakin banyak.
“Kenapa nggak pesen?”
“Gua males pesen sekarang and makannya taun depan.” Dia tertawa lagi.
“Dan gua kesini bukan buat makan.” Dan dia tertawa sekali lagi sebelum melanjutkan kalimatnya.
“O,..gua kesini buat makan. Mbak!” Dia berteriak ke salah satu pelayan seperti memanggilorang di tengah sawah.
“Elo kesini buat kerja.” Kataku dingin.
“And makan. Gua laper. Apalagi elo yang bayar, kan?”
“No.” Aku menghisap rokokkku lagi.
“Masih pelit aj ya, lo.”
“Dua ratus ribu buat cerita dari elo yang belum tentu bagus uda cukup kayaknya.”
Dia tertawa.
“Mulai aja sambil nunggu pelayannya.”
“Tuh uda dateng, kok.”
Dan proses menunggu terjadi lagi. Dia butuh waktu sekitar lima menit hanya untuk menentukan apa yang akan dia makan. Aku benar-benar malas menunggunya. Toh semuanya akan bercampur aduk di dalam perut buncitnya itu!
Dan ketika pemesanan makanan selesai, dia lanjutkan dengan seenaknya mengambil rokok Starmildku.
“Mulai aja. Gua nggak punya banyak waktu.”
“Hahahaha. Nyante lah, man. Wazzup?”
Bahasa Inggris yang dipaksakan.
“Kalo elo nggak punya banyak waktu, buat ngomong ma gua,..apa enaknya gua bisu elo aj, ya. Hahahahaha.”
Aku memiringkan kepalaku ke kanan atas dan menaikkan sedikit alis kiriku.
“Gini nih. Kemaren nih, ada orang masuk penjara karena dia ngebius cowok lain.”
Aku segera menghidupkan rekorder di hapeku.
“Orangnya cowok apa cewek?”
“Cowok. 32 tahun. Kamal. Dia lagi deket sama cewek yang ternyata dikejar juga ma si korban.”
“Nama?”
“Fahmi.”
“Jadi ceritanya di Kamal tau kalo Fahmi juga ngejar-ngejar si cewek. Gua liat fotonya si cewek, neh. Asli,...gua yakin kalo itu pantat ngegoyang, Jakarta gempa deh. Hahahahaha.”
Aku terdiam dengan ekspresi datar menatap dalam-dalam ke matanya untuk menunjukkan ketidaktertarikanku pada apa yang dia omongkan barusan.
“OK. Masalahnya si Kamal ngebawa ini Fahmi ke tukang bikin tato. Dia bilang ini Fahmi itu temennya and dia pingin banget punya tato di wajah tapi dia takut kesakitan. So, dia minta si Kamal ngebius dia and ngebawa dia ke tukang tato.”
Wawan berhenti bercerita dan menghisap rokoknya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan cara yang tidak beraturan.
“Laper gua.”
“Terus?”
“Ya terus gua pingin makan. Lama gak ya?”
“Maksud gua, terus gimana si Kamal?”
“Oh...ya,...gitu deh. Si Kamal ya gitu deh.” Wawan kembali melakukan hal yang paling aku benci. Menunggu. Terutama karena aku membayar dua ratus ribu untuk itu.
“Si tukang tato jelas-jelas nggak percayalah. Tapi siapa yang nggak bakal nurut kalo dia diancam pisau.”
“Si tukang tato ngelawan?”’
“Hahaha. Akhirnya elo nanggepin juga cerita gw selain dengan kata “terus?”, “terus?”. Hahaha.”
I hate this bastard!
“Ya akhirnya dia ngelawan. Jadi ribut and akhirnya ketauan sama orang-orang di sekitarnya. Untung deh. Polisi dateng and bla bla bla. Tapi...”
Aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak bertanya lagi ke Wawan. Aku diam. Aku sangat diam.
“Elo nggak penasaran?”
Aku diam saja menatap matanya dengan amarah yang amat sangat.
“Tapi akhirnya si Kamal sempat juga ngegores wajah si Kamal. Dari ujung telinga kanan, ke pipi dan terus ke ujung kiri mata kanan.”
Aku sudah menemukan apa yang aku cari pagi itu.
“Adalagi?”
“Uda itu aja. Oia, ini ada foto yang gua ambilin buat elo.” Wawan menyerahkan sebuah foto yang aku lihat cukup sekali.
“Tambahin gua lima puluh ribu, ya. Lagi bokek berat. Hehehe.”
Aku melihat wajahnya dan berkata:
“No!”
Aku mematikan rekorder di hapeku dan memasukkannya ke kantong. aku mengucapakan “OK” dan kemudian berdiri.
“Eh, mau kemana lo?”
Aku mengeluarkan uang dua ratus ribu dari kantong celana dan menaruhnya di meja.
“Eh, gua makan aja belum.”
“It’s SOLARIA. What do you expect? Gua balik.”
Wawan terdiam di meja saat aku meninggalkannya.
DI depan HP Miniku aku menulis kolomku untuk segera aku kirim ke editorku setelah selesai.
Aku menghisap rokokku dalam-dalam dan menghembuskannya. Apakah luka goresan di wajah lebih baik daripada tato?
Blogger Part IV
3:17 AMHanya ada satu kalimat di kotak postingan itu.
“Aku melewati gerbang itu...akhirnya.” Lalu di bawah kalimat itu adalah warna abu-abu yang kosong dan diakhiri dengan dua kata:
“READ MORE”
Aku segera mengklik dua kata itu. Dan sesaat setelah aku klik, halaman blog itu termuat lengkap. Dan aku melihat di bawahnya ada tangan laki-laki yang terjulur keluar dari pasir yang menjadi background blog itu. Aku terkejut dan tak tahu harus bagaimana. Perasaanku itu terhenti karena setelah aku tersadar bahwa aku pernah melihat gambar yang sama dengan background halaman blog itu—di link situs berita tentang kematian Mario—halaman blog itu sudah berganti ke postingan GERBANG.
“Aku melewati gerbang itu...akhirnya. It was a fine day. Aku terbangun pagi-pagi sekali dan seperti biasanya, aku bertanya kepada diriku sendiri: Siapakah yang akan aku inspirasi hari ini? Aku melakukan hal-hal rutinku di pagi hari—memanaskan air di dispenser, mandi, solat, membuat kopi, merokok sambil menunggu siapnya laptop dan internetkuku untuk melihat dunia. Semuanya baik-baik saja pagi itu. Tidak ada yang berubah. Masih ada berita hilangnya uang negara dengan cara yang hebat, masih ada orang terkenal yang diliput, masih ada interaksi manusia-manusia yang sebelumnya tidak saling mengenal, masih ada waktu-waktu yang terperangkap di situs jejaring sosial, masih ada yang mau mengabadikan kekonyolan teman-temannya selamanya di internet, dan masih ada yang menyapaku di blog. Pagi yang menyenangkan. Tetapi tetap saja aku bertanya kepada diriku sendiri: siapa yang akan aku inspirasi hari ini? Aku berusahamenemukan jawabnnya dengan berbagai macam cara. Aku memutuskan keluar rumah. Aku berjalan kaki menuju jalan raya. Aku berpapasan dengan seorang pembersih jalan. Aku berjalan mendekatinya. Aku menyisipkan uang lima puluh ribu di kantongnya. Semoga dia tahu bahwa Jakarta tidak sekejam yang diberitakan orang-orang. Aku terus berjalan. Ada warung bubur ayam yang aku lihat dari jauh. Aku makan disana. Aku membayar lebih dari yang seharusnya karena aku melihat dia begitu sabar melayani pembeli sebelum aku yang sangat kasar terhadap permintaannya. Apakah aku sudah menginspirasinya bahwa tidak semua orang itu kasar? Semoga saja.
Aku terus berjalan sampai tengah hari dan melakukan berbagai macam hal yang mirip-mirip diatas. Semuanya itu bukan untuk kebaikan mereka. Semuanya itu untuk kebaikanku. Aku mempunyai kebutuhan yang mendesak untuk menginspirasi orang pagi itu. Tetapi berapa yang benar-benar terinspirasi? Tidak banyak. Hanya segelintir orang yang mungkin putus asa pagi itu. Aku harus melakukannya ke lebih banyak orang.
Aku harus terus berjalan dan berpikir bagaimana caranya. Adakah suatu cara instan untuk melakukan semuanya? Hari sudah sore. Aku sudah berhenti beberapa kali namun aku tetap saja melanjutkan perjalanan. Ada apa aku hari ini? Kenapa aku memaksa diriku sampai sejauh ini? Kenapa juga kebutuhanku tidak terpenuhi sampai sekarang? Kenapa aku terus bertanya-tanya? Bukankah lebih baik aku melakukan sesuatu dan melihat hasilnya? Bukankah aku sudah melakukan hal itu dari pagi? Tetapi kurang. Kurang!
Adakah gerbang yang bisa aku lewati dan di dalamnya ada sebuah mesin inspirasi dengan tombol yang bisa aku tekan? Sekali usaha aku akan mendapatkan hasil yang banyak. Sekali melakukan sesuatu aku akan menginspirasi banyak orang. Aku tidak akan membiarkan apapun menghalangiku. Tidak. Tidak hujan yang mulai turun rintik-rintik, tidak angin yang mulai berhembus kencang, tidak kabut yang mengkaburkan penglihatanku, tidak juga truk pasir di depanku!
Namun aku salah. Truk itu terlalu mengahalangiku. Dia tidak berada di tengah jalan. Dia memilih dekat denganku. Dan disuatu saat, di belakang truk itu aku melihat sebuah gerbang. Gerbang itu terbuka. Dan aku melihat tombol itu. Aku melihatnya! Aku melihatnya walaupun tombol itu tertutup pasir. Tombol itu mendekat. Aku juga mendekat. Gerbang itu terbuka. Aku masuk. Aku menekan tombol itu. Dan aku kembali di depan laptoku untuk inspirasiku ke orang-orang yang lebih banyak.
Begitu kamu melewati gerbang itu, kamu akan sendiri. Kamu akan berharap akan datangnya cahaya. Cahaya macam apa yang akan kamu harapkan? Yang ada hanyalah cahaya yang hitam. Aku sempat hanya dapat melihat cahaya hitam itu. Lalu muncullah bayangan si penyapu jalan, si penjual bubur dan orang-orang yang aku inspirasi pagi ini. Dan aku melihat sebuah terang. Dan aku berharap orang-orang setelahku melihat yang sama. Dan aku menyampaikannya sekarang. Inspirasilah orang lain. Mereka adalah terang di antara cahaya gelap yang akan kau temui ketika kamu seperti aku sore itu.
Aku melewati gerbang itu...akhirnya.”
Aku merasa sudah lama tidak tergugah akan apa yang dilakukan atau ditulis orang. Tetapi kali ini aku merasa berbeda. Tulisan ini meninggalkan sebuah tanda di perasaanku. Aku tidak akan megakui atau membahasnya dengan orang lain. Perasaan itu hanya untukku.
Aku melihat aplikasi chat di blognya. Berbagai kometar muncul disana. Ada yang masih terdengar panik melalui kata-katanya. Ada yang berspekulasi tentang bocornya password blog Mario. Ada yang sudah mendapat follower banyak di twitternya gara-gara komentar yang dia tulis soal Romeo. Status facebook tentang itu juga mulai bermunculan. Ada yang bertanya apakah ada fitur baru di blogger yang bisa mempost suatu tulisan secara terjadwal.
Semuanya bereaksi terhadap peristiwa fenomenal itu. Begitu juga aku. Aku berhenti berinternet. Aku meng-hibernate netbookku. Aku berdiri dan merokok starmild yang aku hisap dan hembuskan panjang-panjang. Setelah habis, aku kembali duduk di kursiku.
Aku membuka HP Miniku dan memulai kolom DARK JOURNALS-ku dengan sebuah pertanyaan yang aku jadikan judul:
“Siapa yang akan aku inspirasi hari ini?”
--Je--
Blogger Part III
5:17 AMAku menghidupkan HP Miniku dan mengecek emailku. Ada sepuluh email baru di Inbox dan Offline messages dari Pemredku. Aku mengecek email itu satu per satu setelah menghapus Offline Messagesnya. Ada satu newsletter dari sebuah toko buku yang menawarkan karangan terbaru seorang penulis ternama. Ada juga email dari,...Google Reader? Storiesondisplay? Aku mengikuti blognya Mario ini lewat Google Reader dan baru saja aku mendapat pemberitahuan bahwa ada posting an baru dari Romeo? Apa-apaan ini?
Aku memutuskan untuk tidak membaca email itu dan langsung menuju ke bookmark di HP Miniku ke alamat blog Mario. Dan aku terkejut lagi karena layout blognya sudah berubah. Dulu blognya berbackground warna hitam dengan aksen merah maroon. Tapi sekarang...
Aku membenci saat-saat internet providerku berjalan kura-kura. Lingkaran kecil di komputerku berputar terus di sebelah kiri judul halama blog Mario. Aku merasa seperti anak kecil yang menunggu mulainya pertunjukan sirkus. Blog itu muncul sangat perlahan dan membuat rasa pensaranku ingin menarik halaman yang mucul sangat pelan itu dengan kedua tangan telanjangku.
Layout baru? Apa ini? Kenapa backgroundnya tidak berwarna hitam pekat seperti biasanya? Sekarang yang kulihat adalah warna coklat muda. Teksturnya kasar. Seperti bola-bola yang sangat kecil. Lingkaran-lingakaran mikro yang berkumpul dan perlahan-lahan memenuhi layar komputerku. Ada titik-titik yang berwarna hitam. Astaga!!! PASIR!!!
Loading page halaman itu mulai hampir sempuran. Tulisan STORIES ON DISPLAY mulai keluar,...dengan font yang berbeda! CHILLER! Bukan,...bukan CHILLER. Cuma mirip sekali dengan font itu, kecuali bahwa bagian bawah beberapa hurufnya yang menetes ke bawah,...seperti darah yang berwarna... hitam. Dan munculah judul postingan pertama...GERBANG.
To be continued...
BLOGGER Part II
3:58 PMAlamat URL itu membawaku ke sebuah artikel tentang kecelakaan yang menimpa si blogger. Barulah dari artikel itu aku tahu bahwa nama sebenarnya adalah Mario. Selama ini di blog, namanya adalah thestoryteller. Di artikel itu ada foto sebuah truk yang bermuatan pasir. Semua pasirnya keluar ke jalan dan diujung tumpukan pasir itu terlihat sebuah tangan tergeletak lemas. Tangan itu menempel di sebuah badan yang semuanya tertutup pasir. Lalu ada judul artikel itu yang berbunyi:
“BLOGGER MISTERIUS MENINGGAL DENGAN CARA YANG SAMA.”
Malang, 14 Feb 2010
Seorang blogger misterius meninggal tepat di sore valentine setelah tertutup pasir dari truk yang mengalami kecelakaan di depannya. Tidak ada saksi yang melihat kejadian tersebut karena Jl. Kalimadu Malang memang sepi dari pengguna jalan raya di sore hari.
Itulah isi paragraph pertama artikel itu. Bagian berikutnya menceritakan profil Mario,...Almarhum yang dikenal sebagai pemuda yang menutup diri dari lingkungannya. Hal ini sangat aneh karena dari yang aku tahu, banyak sekali postingan yang ada di blognya dan begitu juga interaksi di aplikasi chat yang dia pasang. Dari beberapa kali melihat gaya bahasanya, Mario terkesan ramah dan sangat akrab walaupun dengan para blogger baru yang memberi komen di setiap postingannya.
Aku menutup jendela blognya dengan sebuah perasaan bercampur aduk. Memang aku tidak pernah mengenal dia secara pribadi, namun aku merasa tahu pesan-pesan yang dia coba sampaikan dari cerita-cerita pendek dan pengalamannya sehari-hari yang dia tulis di blognya.
Tiba-tiba saja aku merasakan kehilangan mood untuk tetap berada di dunia maya malam itu. Aku melepaskan modemku lalu mematikan dan menutup HP Miniku. Aku memutuskan untuk merokok dan aku menghabiskan enam batang Starmild sambil memikirkan apa yang akan terjadi pada para penggemar blognya,...seperti aku.
Pemred koran ditempat aku bekerja menelponku tentang deadline artikel untuk kolomku. Ternyata musibah yang menimpa Romeo membuatku lupa untuk mengemail tulisanku ke Pemredku. Dia bilang dia sudah meninggalkan pesan di Yahoo! Messengerku. Dia bertanya:
“Gak cek lewat BB?”
“I don’t do BB. I have a life and I appreciate it.”
Dia tertawa keras dan berkata
“It’s 2010.”
Dan aku hanya menjawab:
“Yes, tapi gua nggak ngejadiin BB life support gua. Gw kirim sekarang.”
To be continued...
To be continued...
