thefirstmanonjupiter
Reality, Honesty, Stupidity...zoomed. Exaggerating is an art!
Showing posts with label a short story. Show all posts

The puppet society--Part I

1:15 PM

Kami sedang berada di sebuah ruang meeting yang ber-wallpaper batik dengan warna coklat bergradasi tujuh tingkat. Ada podium yang tersedia dengan celah tipis yang terisi tongkat cagak Jayakanta. Di depannya—duduk di theater tujuh tingkat—adalah para wayang-wayang yang sedang mendengarkan ceramah kepatuhan yang sedang diberikan Jayakanta.
Jayakanta adalah sosok dewasa yang memperoleh kedewasaannya dengan cara yang kompleks. Dari luar dia adalah sosok yang patuh dan—selain kecerdasan berbeda tingkat dengan wayang-wayang yang lain—kepatuhannya membawanya berdiri di atas podium itu.
Setelah beberapa elu-eluan oleh wayang-wayang disana, Jayakanta berdehem. Dan itu pertanda akan dimulainya pertemuan itu.
“Terimakasih atas kedatangan rekan-rekan semua. Saya tahu tidaklah mudah untuk melarikan diri barang sejenak dari para tuan-tuan anda. Jadi sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Agenda pertemuan kita kali ini akan saya buka dengan sebuah cerita yang saya dapatkan dari tuan saya. Sebagaimana anda-anda semua sudah tahu, dia adalah seorang penulis cerita budaya. Saat ini dia sudah menyelesaikan 17 cerita pendek dari 24 yang dia rencanakan untuk terbit tahun depan. Selama proses pembuatan cerita-cerita itu, saya terus dipandangi oleh si penulis untuk menda[atkan inspirasi. Dan jujur saja, saya benar-benar penasaran tentang apa yang dia tulis. Jadi di suatu malam, saya turun dari tempat saya biasa dipajang dan membaca salah satu tulisannya. Ada satu bab disana yang berjudul Jayakanta—sebuah kepatuhan. Di kesempatan ini, saya akan menceritakan kepada anda sekelumit tentang cerita itu.
“Digambarkanlah Jayakanta itu benar-benar seperti saya-tipis, berlekuk dengan derajat yang tepat, enak dipegang dan dimainkan, serta mimik muka yang penuh ekspresi karena dua pasang alis yang flexible.
“Suatu hari, Jayakanta dihadapkan oleh sebuah masalah. Dia didatangi Mbah Surio—seorang tokoh wayang magis yang mempunyai pendapat bahwa wayang harus mempunyai kebebasan berekspresi. Dia harus bisa bergerak sendiri untuk bekerja lebih maksimal dan lebih bermanfaat. Dan kekuatan magis itulah yang dia tawarkan ke Jayakanta.
“Jayakanta segera menolaknya. Dia menunjukkan tato di lengan kanannya dengan sebuah tulisan Jawa yang berarti “Kepatuhan adalah tujuan hidup tertinggi.” Mbah Surio tidak berhenti disana. Dia berdehem sejenak. Dia menawarkan sesuatu yang lain. Dia menawarkan sebuah kesempatan untuk bertukar tempat dengan tuannya. Mbah Surio cukup menggugah Jayakanta melalui kata-kata yang dipilihnya. Dan tampaknya dia berhasil.
Read On 0 comments

Reminded

6:16 AM


“At some point in our lives, we need to be reminded of our purpose of being in this world.” Je thought of that in between his coffee at a food stall.
 Je’s memory went back to exactly thirty minutes ago while he was sitting in a smelly bus next to an old man whose smell was such a competitor. That old man started a conversation and Je thought that it was a very bad time to do that.
“Where are you going, young man?”
“What a very ordinary way to start a conversation. It is a proof of eastern—winning life value—hospitality a.k.a being nosy about others’ business.” Je thought.
“Bogor, Sir. Almost arrived.”
“Aaaah,…same here. You live in Bogor?”
“It was late at eleven and I looked all tired after a day’s work and he thought I lived somewhere else!” Je thought.
“Yes, Sir.”
“Aaaah, I live there, too. Whereabouts, young man?”
And there Je went explaining the city’s dirty part where all of his problems dwelled.
“You look sad. What happened, young man?”
Je was about to answer “nothing” but he thought that old man figured that as a way to end the conversation and he looked as if he hadn’t wanted that to happen so he directly left his question and moved on to his next sentences.
“I had a son looking just like you.” He reached his pocket and took out his wallet that was probably born in the year he was, too. His right fingers struggled and succeeded in taking out a photograph that was seriously torn.
“Look. There I was…he was…” He pointed at a young man. I looked like that when I was young. I bet you can still see our resemblance behind all these wrinkles I have now.”
He coughed…a kind of cough that cleaned up your whole lungs.
“Smokers!” Je thought. “Probably drunker, too. What’s the connection between his resemblance and his son and me?”
“Meaning we look like each other, son. Look at me. Look at me and what’s hiding behind my ever growing beard.”
Je did what he was told. But he didn’t try hard. Why should he?
“Why should I?” Je thought. He smiled a forced smile.
“Ooo…those goooood oooold days!”
“It’s 2010.” Je thought.
“I used to hate my parents a lot.”
Je thought of that as at least one thing they had in common. Je hated his dad.
“It’s my dad.” That old man said.
“A mind reader possibly?” Je thought.
“Different opinions all the time?” Je asked.
“In any ways, young man. In any ways.” He said emotionally.
Je’s thought went to his bag. Inside, there was a solution for his problem.
“World wasn’t big enough for both of us, really. That mother fu…, well,” the old man coughed “I couldn’t think of any better way to describe that old rag, really. But I guess my age a man should really watch his language.”
“You’re afraid of saying “mother fucker”?”
“Hahahaha,”He coughed.”Hahahaha. There you go. You young man have privileges to say anything, really. Don’t we all miss the days when we were young?”
“I’m still young.” Je thought.
“Young and free that is.”That old man looked straight at the side of Je and said in a fast and non-stop way like it was the last time he met Je: “Free from anything really. You can breathe, stretch, you can be close to the ones you love—that gal with pony tail—to work, to marry, to come back from work and be the man of the house. Forget whatever plan you have made tonight and spare me those moments.”
Je turned to him. He looked at the old man deep in the eye.
“You don’t get it, do you?”
Je was in shock since he looked at the two eyes that told a lot about him.  He shook his head slowly. That old man trembled and said:
“I lost my youth because I stabbed that bastard in the stomach.”
That old man stood up, left Je, walked to the front of the bus, stood by the door, turned to Je for a while who was shivering and standing up from his seat. He jumped out of the bus.

It took Je about an hour to figure all things out. But it only took him ten minutes to reach inside his bag and threw away a pack of poison to the bushes across the street. He went inside a place for cups of coffee…lots of them.

--Je--


Read On 4 comments

Reflective Challenge Championship 2030

8:35 AM
“Are you readyyyyyyyyyyyyyyy?” Suara seorang komentator sebuah pertandingan bergema lewat microphone yang kecil namun powerful.
“Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!” Suara riuh penonton pun berefek yang sama walaupun tanpa alat bantu.
“Kita lihat saudara-saudara, siapakah yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Apakah Richard, Deadra ataukah Nanda?”
Ketiga nama itu sedang berdiri di tiga podium yang masing-masing hanya berjarak 1 meter saja. Podium ketiganya berbentuk seperti silinder dengan ketinggian 12 meter! Lebar silinder itu hanya cukup untuk ditempati satu kursi bersandar (sandaran itu tidak ada gunanya karena setiap peserta duduk maju penuh antusiasme menghadapi wide screen yang cekung mengitari mereka) dan satu blok yang menjadi tempat remote control dengan banyak tombol  berwarna-warni. Banyak sekali penonton jauh dibawah mereka yang sedang rebahan di reclining seat sambil berteriak-teriak memberi dukungan kepada jagoannya diatas sana.
“Let the gameeeeeeeeeeee begiiiiiiiiiiiiiiin!!!”
Richard, Deadra dan Nanda segera mengambil remote control mereka masing-masing dan memencet tombol start ditengah teriakan riuh par penonton. Ketiak tombol start tertekan, muncullah tiga avatar yang menggambarkan virtual characters mereka di screen.
Richard: Cowok kurus sporty berbandana merah dengan basketball yang didribblenya tanpa henti sementara matanya tidak kesana. Kedua bolamatanya sedang sibuk mengitari ruang tempat berlatihnya untuk mencari mangsa.
Deadra: Cewek 30an tampak berbaju wanita karir duduk dengan kaki menyilang yang sangat sexy. Di depannya ada notebook yang terbuka dan retractable mouse yang panjang sekali sampai kabelnya berjuntai di lantai. Kacamatanya diturunkan sampai di hidung untuk member jalan kedua bola matanya mengitari ruangan mencari mangsa.
Nanda: Avatarnya adalah seorang ibu muda di sebuah dapur. Dia sedang memotong wortel dengan sangat cepat namun matanya tidak ke arah sayuran itu. Kedua matanya mengitari ruangan dapurnya mencari mangsa.
Suasana di stadium itu perlahan-lahan surut sepi. Teriakan penonton yang tadi riuh surut sendiri secara teratur. Sekarang semuanya diam. Semuanya memandang ke ketiga avatar di atas mereka dan mencoba mengikuti arah ketiga pasang bola mata itu. Mereka bergerak ke kiri, ke kanan, lalu ke atas dan tiba-tiba ada sesuatu di bawah masing-masing avatar itu!!!
Avatar Richard melempar bolanya, Mouse Deadra melayang ke sasaran. Dan pisau Nanda terbang ke bawah mencoba mengenai objek yang bergerak cepat tidak mau kalahnya. Semuanya gagal mengenai objek itu.
Ada pantulan di sebelah kiri masing-masing avatar. Dan di sebelah kiri pulalah bola basket, mouse dan pisau dengan cepat diarahkan. Gagal lagi. Objek itu ke atas. Pisau Nanda mengenainya. Namanya segera bergaung di stadium itu.
“Nanda mendapatkan 70 poin!” Kalimat itu hampir tidak terdengar karena hebohnya pendukung Nanda yang melihat score digital Nanda berubah ke angka 70.
“Apa itu di belakang mereka?!” Teriakan komentator itu diikuti oleh suara berdesing pisau Nanda ke arah belakangnya dan menancap di dinding kayu. Gagal! Ditariknya cepat-cepat untuk diayunkanya lagi ke arah yang lain demi score kedua. Ternyata bola basket Richardlah yang berhasil memukul objek itu.
“30 poin!!!”
“Yeeeeeeeeeees!!!” Richad bersemangat! Cuma mouse Deadra yang belum berhasil. Padahal kabelnya sudah kemana-mana bahkan hampir mengikat tubuhnya sendiri. Dengan cepat Deadra berubah penampilan. Sekarang dia ada di kamar tidurnya dan dia adalah wanita berbaju super ketat dan berambut panjang sebahu namun ternyata rambutnya itu memanjang dengan kecepatan penuh ke samping kanannya karena ada gerakan disana. Rambut itu sangat efektif! Kibasannya menghasilkan poin 45!
“Akhirnyaaaaaaaaaa score untuk Deadra!!!” Teriak komentator diantara gemuruhnya penonton. Tidak ada yang menjamin kepastian teriakan penonton itu gara-gara score Deadra atau gara-gara pakaian minim dan ketatnya!
Semua pasti penasaran tentang berapa si komentator membayar dokter untuk tenggorokannya yang bekerja keras malam itu berteriak-teriak selama kurang lebih setengah jam penuh tanpa berhenti! Akhirnya pertandingan selesai setelah bola Richard kempes, rambut Deadra rontok beberapa dan pisau Nanda sudah sangat tumpul. Penonton tetap bersemangat melihat lokasi avatar jagoan mereka yang sangat kacau dan bekas-bekas masing-masing serangan dimana-mana. Tempat berlatih Richard sudah sangat parah. Kamar Deadra berantakan seperti lokasi pemerkosaan dan dapur Nanda benar-benar butuh untuk direnovasi!
“Saatnya menghitung score. Are you readyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy?”
Terbakar lagilah semangat para penonton untuk berteriak-teriak menunggu perhitungan score.
Avatar di wide screen dikuasai oleh gamar Richard. Si komentator mulai menghitung nilai objek-objek yang dihantam olehnya.
“Tiga puluh satu kepala sudah dihabiskan oleh Richard. Berapakah nilai kepala itu? Mari kita lihat bersama.”
Muncullah kepala si Draco dengan tulisan “IDEAS” di jidatnya yang berubah menjadi score 89. Lalu kepala Dewi degan tulisan “ACTIONS” yang berubah menjadi nilai 90. Beberapa kepala berganti-ganti sampai Richard mendapatkan score 745.
Lalu avatar Deadra mengusai wide screen walaupun sebenarnya teriakan pendukung Deandralah yang lebih merajalela. Beberapa kepala dengan tulisan “ARROGANCE—27, GOOD DEEDS—59, OPENESS, 73” dan beberapa lainnya membulatkan score Deadra menjadi 800.
Nanda adalah yang terakhir. Komentator sempat memanas-manasi para penonton tentang kemungkinan Nanda mendapatkan kepala emas.
“Apakah Nanda berhasil menghantam tiga kepala emas yang tidak ada di daftar Richard dan Deadra?”
Penonton pun berteriak menggila.
“SELFISHNESS! 87!”
“Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!!”
Kepala biasa muncul setelah itu.
“Ini adalah kepala terakhir Nanda. Masih ada dua kepala emas dan salah satunya dilewatkan oleh ketiga Grand Champion kita di pertandingan kali ini. Kepala apakah ituuuuu?”
“UNDERSTANDING! 99!”
Dan,..masih ada satu kepala lagi yang dipunyai Deadra. Apakah itu kepala emas yang terakhir, atau hanya kepala biasa?”
“Emas! Emas! Emas! Emas!” Nanda mendapat dukungan penuh dari para penonton.
“Daaaaaaaaaaaan,..inilah kepala yang berhasil dipukul Nanda,…..” Semua penonton diam. Kepala ini menentukan score Nanda yang sekarang hanya 750.
“FORGIVENEEEEEEEEEEES!!!!!”
“YEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!!!!”
Score board Nanda berubah menjadi 850 dan dia berhasil membawa pulang piala kejuaraan “REFLECTIVE CHALLENGE CHAMPIONSHIP 2030!”


Read On 2 comments

Write for Sanity

7:19 AM
"So seriously, she was a man?"
"Like YEAH!"
"Like YUCK!" 
"Hahahahahahahaha."


Aku menutup bukuku ketika ada sebuah ketukan lembut di pintu.
"Ya?"
"Gue. Boleh masuk?"
Itu suara Gina. aku mengiyakan dia dan kemudian pintu kamarku terbuka.
"Masih ngerasa nggak keruan?"
Aku menggeleng.
"Bener?"
Aku mengangguk.
"Yakin?"
Aku menggeram. Dan kemudian kita berdua tertawa.
"It's time to go."
"Yeah."
"Ini stocking kamu jangan sampai lupa."
Aku berdiri dan menaruh bukuku di laci. Ketika aku melakukannya, aku bisa melihat dari ujung mataku Gina memperhatikanku. Aku mengambil stocking itu dan kami berdua keluar kost.

Di mobil, dia masih saja keliahatan penasaran setiap kali aku menghabiskan waktu dengan buku itu.
Aku tahu rasa penasaran bisa membunuhnya. Dan sudah berapa kali dia ingin mati akrena tidak tahu apa isi buku itu??? Mungkin dia adalah seekor kucing yang sudah terbunuh 8 kali. Daripada dia benar-benar mati untuk terakhir kalinya, aku memutuskan untuk mengatakan sedikit sesuatu tentang buku itu. Aku berbalik dan menatapnya lembut.

"Buku itu aku gunakan sebagai terpai jiwaku. Setelah aku menulis, aku merasa masalahku sudah selesai dan aku merasa baik lagi."

"Hanya dengan menulis?"
Aku mengangguk.

"Aku selalu mencoba memahami segala sesuatu yang terjadi padaku dari sudut pandang yang berbeda. Tadi aku menulis peristiwa kemarin sore saat aku mendengar omongan-omongan tentang aku oleh kenalan-kenalanku sendiri dari sudut pandang mereka. Sekarang aku sudah lega. Yang sudah ya sudah. Yuk kerja. Moga2 malem ini kita dapet tips banyak."
Read On 5 comments

Ginie in a bottle--Jack Daniels' special edition

3:31 AM
Joe buru2 pulang ke rumah dan segera menuju kekamarnya. Hal pertama yang dia lakukan setelah membuka pintu adalah menguncinya rapat2. Setelah itu dia membuka tasnya untuk mengambil sebuah CD yang dia beli di glodok tadi pagi.. Lalu dilemparkannya tas tadi ke sembarang tempat. Dia menuju meja komputer dan segera menghidupkannya. Setelah itu yang dia beri nyawa adalah AC di kamarnya. Dia bisa dengan segera merasakan sejuk di dadanya yang baru saja terbebas dari baju yang--seperti tasnya--dilempar entah kemana.
Beberapa saat setelah komputernya siap tersiksa, Joe langsung setengah merobek CD software yang ditangannya dari tadi dan segera memasukkannya ke disc drive untuk memulai sesuatu yang dia belum pernah alami sebelumnya.


Di layar komputernya terpampang nama software itu:

GENIE VER 2.0
JACK DANIELS' SPECIAL EDITION
three wishes on clicks








Ada beberapa notifikasidi layar komputer Joe.
"Select a language for installation"

Joe memilih English. Namanya sudah bisa menjelaskan pilihannya.

"Preparing to Install"

Joe bisa saja keluar kamar untuk mengambil segelas minuman,atau sebotol jack Daniels untuk menambah khusyuk suasana. Tetapi dia memilih memelototi layar komputernya. Ada sisi Joe yang terlalu logis yang menyebutnya bodoh untuk melakukan semua itu. Tapi sisi itu sedang sakit dan tidak bisa konsentrasi. Yang ada adalah sisi yang liar akan petualangan!

"Computing disk size"

OK,..Joe menghela nafas yang rela tidak rela dengan notifikasi ini. Dalam hati dia mau menghapus semua file kerjaannya yang berisi video2 editan olehnya apabila software ini benar2 manjur.

"Some applications found in this computer should be deleted so that the software functions best. Do you wish to delete the following applications?"
Confirm deletion?"

Joe tidak berfikir sama sekali untuk langsung meng-click "Yes".

"Are you sure?"

Hal yang sama terjadi ketika si software mempertanyakan keyakinannya.

"Yes"


"Installing driver software. It may take some times for the driver to be installed."


Joe menunggu. Betapa dia membenci semua jam dinding di dunia!


"Software detects that the programs deleted needed to be completely removed from the computer and would not be able to be installed again permanently for maximum result."

WOW!!! Software ini pastilah sangat hebat karena bisa melakukan deteksi dan memberikan solusi programming handal seperti ini.

"Do you wish to delete the programs permanently?"

"Yes"

Tiba-tiba saja layar komputer Joe berubah gelap pekat. Joe panik. Apa yang terjadi?


"Software needs active speaker to send audio message. It detects Renkus Heinz PN-102LA on this computer. Do you wish to turn the device "on"?"


"Woooooooow!!!!!!"


"YES!!!!"

Joe sudah siap dengan apapun kejutan yang akan dialaminya. Namun kenyataannya dia tidak siap sama sekali. Begitu dia klik "YES", ada suara tawa jin yang sangat kencang memenuhi setiap sudut kamarnya. Jin itu hanya berkata tiga kalimat dan kemudian menghilang merenggut akal sehat Joe dan menggantinya dengan perasaana bodoh tujuh tingkat.

"I am the genie in a bottle--Jack Daniels' special edition. I have made your three wishes come true, human!!! My job is done and I am leaving!!!" 
Read On 2 comments

The 6th rule in my love life

10:03 PM
           “I have waited for the length of my hair.” Kiki once told me that beautiful sentence. She once waited for his ex-boyfriend to come back to her. She waited from when her hair was shoulder-length until it reached half her back.
I am not going to do that for my ex-boyfriend. I am waiting for him now but I told him that it would be only for an hour. I dont have all the time in the world to grow my hair. Besides, I like it short! I am much of a logical than a romantic chick.
Being very logical and all that, I decided not to tell my present boyfriend about this meeting. For me, this rendevouz is just th one between two old friends. That’s it!
Sure he held my hand so right. Sure he touched me on the right places. Sure he worshipped me with the magical words coming out of his sexy thin lips circled with his walrus beard and manly goatee. Sure he waited patiently for my make-up process. Sure he surprised me with small but perfect gifts—the one he made, not bought!—for our special days that he created by himself. There are a lot of them. For example, our first meeting, our first hands-held, first movie, first date after we became lovers, first trip together to Jogja, first photograph taken together, first fight, first got angry at by my parents, ...
Oh my God!!! I still love him!!! This is so wrong!!! I always tell myself not to meet any of my ex-es I still have feelings with when I am in a relationship. That is the 6th rule in my love life.
My hands trembled so quickly. I looked at my watch. I looked at my shirt. It’s maroon—his favorite color which I chose in purpose to make him happy. I cheked on his last message 30 minutes ago after I told him that I had arrived at our used-to-be favorite restaurant.
“I have to go!” I said to myself. I replied the message:
“Mom called. Emergency. Gota cancel. Sory. Forgive me?” I waited until the delivery report notofication. After that I shut my laptop down and was going to put it inside my bag when I heard a deep voice behind my back.
“Sure I’ll forgive you. What happened with your Mom?”
I turned my head and saw the ex-botfriend of the year with a very sexy girl he was holding on the waist.
“Oh, anyway, this is Michiko—my girlfriend. She is going to meet her collagues here, too. Is your Mom ok?”
I did not answer his question. At the end of my waiting there was only one thing in my head...

The 6th rule in my love life. 

Je
This is special for “Kiki”... somewhere out there.
Read On 3 comments

PILIHAN

7:58 PM
“Sudah menentukan pilihan?”

Aku terdiam.

“Mata, tangan atau kaki?”


Aku tetap terdiam.


“Diammu tidak akan merubah tawaranku. Kau tahu itu. Kau benar-benar tahu itu.”


“Kalau kamu harus memilih, mana yang akan kamu pilih?”


“Dalam keadaan biasa, aku tidak akan menjawab pertanyaan itu. Tetapi aku menganggapmu spesial. Jadi aku akan menjawabnya. Kaki.”


“Kenapa?”


“Itu aku tidak tahu. Aku hanya asal menjawab saja.”


“Kau menempatkanku tanpa pilihan.”


“Hahaha. Hidup ini masalah pilihan. Dan aku memberikan pilihan kepadamu. Bahkan aku memberikanmu TIGA!”


“Pilihan-pilihan yang ada tidak menguntunganku.”


“Tapi tetap saja ada pilihan, kan?”


“Tapi...”


“C’mon! Korban-korbanku tidak pernah aku berikan pilihan karena aku tidak menganggap mereka spesial. Nggak cukup ya?”


“Kenapa aku spesial?”


“Ha?”


“Aku merasa perlu tahu kenapa kau menganggap aku spesial.”


“Buat apa?”


“Buat apa kau melakukan semua ini padaku?”


“Karena aku ingin.”


“Aku punya alasan yang sama.”


“Baiklah. Aku menganggapmu spesial karena semua korban-korbanku hanya bisa berteriak dan memohon kepadaku untuk dilepaskan ikatan tangan dan kakinya. Kamu berbeda. Memang sih kamu berteriak. Tapi bukan minta dilepaskan. Kamu berteriak mengata-ngatai aku. Itu yang membuatmu berbeda. Aku yakin yang lainnya cuma berani mengataiku di dalam hati mereka. Kamu berbeda.”


“Dan karena itu aku berhak mendapatkan TIGA pilihan itu?”


“Yup.”


“Ok.”


“So, apakah sudah siap memilih?”


“Tidak.”


“Hahaha. Kau coba memperpanjang waktu sampai polisi dating? Nggak bakalan. Aku pikir kamu lebih pintar dari itu.”


“Tidak.”


“Maksudnya?”


“Kau tanya apa aku siap memilih. Aku jawab tidak. Silahkan saja ambil tangan,kaki atau mataku.”


“Maksudnya?”


“Silahkan saja. Aku tidak akan siap kehilangan mereka. Tapi seperti yang kamu katakan, aku masih punya pilihan. Aku tidak mau memilih penderitaan yang aku akan tanggung di hidupku nanti.”


“Aku tidak paham.”’


“Rasa bersalah. Aku tidak mau merasa bersalah dalam hidup. Jika nanti suatu saat aku tidak bisa melihat, aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Jika nanti aku tidak bisa meraih gelas untuk minum, aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Jika nanti aku tidak bisa berjalan cepat ketika menahan buang air, aku tidak akan menyalahkan diri sendiri. Aku tidak mau tahu itu.”


“Hahaha.”


“Kalau kamu bisa membuka mata dan bangun di pagi hari tanpa rasa bersalah,...aku tidak bisa.”


“Jawaban macam apa itu?”


“Jawaban dari orang yang spesial dimatamu.”


“Aaaah,...omong kosong.”


“Kalau begitu,..langsung saja. Surprise me! Bikin aku terkejut bagian mana dari tubuhku yang tidak akan ada besok.


“Mmmm... kamu lagi bermain-main dengan pikiranku, ya?”


“Tidak juga. Aku hanya tidak mau bermain dengan perasaan bersalahku.”


“Aaaah,..rasa bersalah lagi!!!”


“Iya. Buatku itu lebih penting daripada mata, kaki atau tangan.”


“Kau banyak bicara!”


“Bukannya itu yang membuatmu berpendapat bahwa aku spesial?”


“Dan baru sekarang aku sadar kalau kamu spesial dengan cara yang menyebalkan.”


“Maksudnya?”


“SUDAH!!!!”






Di sebuah kedai kopi, aku sedang mengobrol dengan seorang teman lama.


“Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.” Kata temanku.


“Kamu sudah tahu harus bagaimana. Dan hari ini kamu bertemu denganku sebenarnya bukan untuk meminta pendapat. Kamu hanya ingin mendengar seseorang yang akan mendukung keputusanmu.”


“Bukan begitu. Aku benar-benar tidak bisa berpikir sehat sekarang ini. Apa aku harus tetap menjadi suami kedua buat dia? Atau harus menceraikannya? Aku stress menghadapi masalah ini. Aku sudah mulai minum lagi seperti dulu. Aku pasrah. Aku akan menyerahkan keputusannya kepada istriku.”


“Jangan. Ada pilihan di depanmu. Mungkin sekarang kamu berpikir bahwa kalau kamu menyerahkan pilihan itu kepada istrimu, kamu bisa menyalahkannya ketika sesuatu yang buruk terjadi di masa depan kalian berdua nanti—bersama atau tidak. Tapi percayalah, lebih baik kamu mengambil salah satu pilihan itu daripada orang lain mengambilnya untukmu. Rasa bersalah untuk tidak memilih sesuatu dalam hidup kita untuk kita sendiri akan lebih besar daripada rasa bersalah memilih pilihan yang tidak enak. Percayalah, I have learned it in a very hard way.”






Percakapan kami berakhir disana. Kami berdua keluar dari kedai kopi itu. Temanku melangkahkan kakinya sedangkan aku mendorong kursi rodaku.






--Je--






Read On 2 comments

TERBALAS

6:24 AM
Perutku lapar sekali. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan menuju ke tempat makan favoritku. Dan tempat itu penuh. Aku memutuskan untuk menghidupkan rokokku dulu sambil menunggu satu atau dua orang yang sedang makan. Dari luar aku perhatikan ada seekor kucing di bawah meja yang sedang mengeong-eong tanpa ada yang mempedulikannya. Dalam hati aku berniat untuk membagi makananku nanti.
Ketika rokokku selesai terbakar habis, semua orang di tempat makan itu keluar. Beberapa ada yang bersendawa sangat kencang. Aku iri. Aku tidak pernah bisa bersendawa. Aku dibesarkan dengan sopan santun yang ribet.
Masuk dan duduklah aku di bangku sebuah bangku panjang. Aku memesan nasi, sayur dan telur dadar. Dan makanlah aku. Kucing yang tadi aku lihat muncul dari bawah meja dan bermain-main dengan kakiku.
Aku teringat janjiku tadi kepada diriku sendiri. Aku memesan satu ikan kembung dari ibu si penjaga warung. Tapi tunggu,... Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu..aku belum menarik uang dari ATM selama tiga hari. Apakah persediaan uangku masih ada?
“Ah,...inikan perbuatan baik. Lagian aku bisa hutang di warung ini.” Kataku dalam hati.
Aku memasang pose seorang intel. Mataku menatap si ibu penjaga warung sementara tanganku memotong separuh ikan tadi dan menjatuhkannya. Terdengarlah suara si kucing yang lahap menyikat separuh ikan itu. Aku menunduk ke bawah dan melihat bulu putih kucing kurus itu bergreak-gerak mengikuti gerakan kepalanya yang sibuk dengan si ikan setengah.
Aku melanjutkan makanku sampai habis walaupun menyisakan setengah bagian ikan yang tadi. Sekilas ibu penjaga warung melihat setengah ikanku dan lalu aku pura-pura bersibuk-sibuk dengan durinya. Aku berhenti untuk menyalakan rokokku agar makanku terasa lebih sedap. Setelah menyala, aku buru-buru mengambil ikan itu dan melihat kebawah untuk menjatuhkannya.
Dan aku sempat terkejut karena aku melihat kucing putih itu menatapku dengan dua bola mata berbeda warna--biru dan kuning. Saking terkejutnya aku melepas ikan itu yang langsung disambarnya pergi. Aku senang melakukan itu.
Setelah aku selesai makan, aku bermaksud membayarnya. Semuanya sepuluh ribu rupiah. Dan selembar uang itulah yang ada di dompetku. Lalu aku pulang mengambil jalan yang terdapat mesin ATMnya.
Di tengah jalan, aku menyalakan rokok lagi. Tapi kali ini susah karena angin yang berhembus lumayan kencang. Aku berhenti sebentar dan serius sekali berusaha untuk menyalakan api. Saking seriusnya, hamper tertutup semua bagian wajahku menghalangi angin yang mematikan apiku. Dan ditengah-tengah usahaku, ada bunyi klakson yang sangat kencang sekali dari sebuah truk di belakangku. Aku panik. Ketika aku membalikan badan, ada wanita yang menubruk aku ke samping jalan sampai aku terjatuh. Tetapi aku selamat dari truk itu. Dia pun juga. Hanya saja kerudungnya terbuka karena gesekan tabrakanku tadi. Dia membuang mukanya menghindariku. Saat aku panggil untuk mengembalikan kerudungnya dia menoleh ke arahku dan mengucapkan “Terimakasih.” Dan secepatnya pergi dari tempatku tadi.
Dan saat itulah aku hanya terdiam ternganga karena tatapan kedua matanya yang berbeda warna.

TERBALAS
--Je--


Read On 3 comments

LAGI

3:02 AM
“Bagaimana interview sejak dua hari kemarin?”
Pertanyaan dari atasanku itu membuatku memutar bayangan tentang apa yang terjadi dua hari ini. Aku ingat aku memakai kemeja putih, celana panjang hitam, jas putih dan dasi hitam tipis yang melambai ketika aku berjalan memasuki ruang interview yang serba putih susu. Aku duduk di sebuah kursi hitam di belakang meja putih.
Aku memusatkan pikiran sebentar dan setelah itu terbukalah pintu gerbang putih di ruangan itu. Muncullah seorang wanita dekil berambut keriting yang tampaknya sudah beberapa saat tidak tersentuh air. Bau yang keuar dari tubuhnya juga mendukung pendapatku. Belum lagi kesan yang ditimbulkan dari lubang-lubang di bajunya yang berwarna merah marun…ketika dia membelinya. Keberadaan dirinya benar-benar menarik perhatian semua udara yang sedang berhembus di ruanganku.
“Selamat pagi, Ibu Ling.”
“Selamat pagi, pak. Maksud saya,..selamat pagi mala..”
“Panggil saya Wu.”
“Baik, pak, Wu.”
“Wu saja, Bu.”
“Baik.”
“OK,…apa kabar Ibu hari ini?”
“Baik…” Lalu dia terbatuk-batuk dengan cukup parah. Aku sempat berharap semoga organ tubuhnya tidak keluar lewat batuk itu. Untungnya harapanku terkabul.
“Batuknya parah juga, Bu.”
“Iya. Masa menunggu ini memang sedikit berat untuk saya. Makanya saya sangat senang sekali bisa mendapat kesempatan bertemu dengan..kamu, Wu..”
Dia memerlukan sedikit penyesuaian dalam memanggil namaku tanpa embel-embel “PAK”. Walaupun sebenarnya aku lebih tua daripada dia, toh tampangku masih bisa dianggap seperti anaknya.
“Syukurlah kalau Ibu berbahagia sekarang.”
“Apakah ada pengaruhnya terhadap hasil wawancara ini kalau saya bahagia?”
Mata itu…pancaran sinar harapan yang selalu aku lihat di mata orang-orang seperti Ibu Ling hadir di ruangan itu.
“Tidak, Ibu. Namun, kebahagiaan adalah sesuatu yang positif, bukan?”
“Iya.” Dia menganggukkan kepalanya.
“Kapan terakhir kali Ibu ingat merasa sangat bahagia?”
Dia tersenyum. Pelan-pelan bibirnya melebar dan dia benar-benar tampak bahagia.
“Ketika saya menggendong cucu saya. Dia adalah anugrah bagi keluarga kami. Maksud saya,…setelah anak saya menunggu kehadiran bayi itu cukup lama dan akhirnya dia datang,…rasanya sungguh bahagia bagi semua orang, terutama bagi saya.”
“Kira-kira umur berapa sekarang dia?”
“Sekitar kamu, Wu. Dan dia pasti setampan kamu…kalau dia masih hidup.” Raut wajahnya segera berubah. Lambat laun pangkal matanya mulai bertemu. Kerutan di matanya mulai lebih menampakkan diri. Mereka saling mendekatkan diri satu sama lain. Sedih,…sangat sedih,…
“Maaf.”
Dia menarik napas panjang dan membuangnya sambil menggerakkan bahu ke bawah.
“Apa itu saat yang paling menyedihkan dalam hidup Ibu?”
Dia menggeleng. Kepalanya tertunduk sekarang.
“Ibu masih bisa melanjutkan wawancara ini?” Tanyaku lembut.
Dia mengangguk dan langsung menatapku dengan penuh harap agar aku tidak menghentikan wawancara ini hanya karena dia tampak sedih.
“Sebenarnya saya sedih karena ingatan saya tentang cucu saya membawa saya teringat akan Ibu saya sendiri.”
“Ada apa dengan ingatan itu?”
“Saya,…saya adalahanak durhaka, Wu.”
“Maksud Ibu?”
“Saya,…ah,…saya malu.”
“Kenapa? Bisa Ibu jelaskan secara lebih lengkap?”
“Wu,…mungkin kamu sudah tahu tentang ibu saya.”
Aku memang sudah tahu.
“Saya akan lebih paham cerita Ibu jika diceritakan lebih lengkap, Bu.”
“Baiklah.”
Aku memutar sebuah musik instrumental petikan gitar yang mendayu-dayu di kepalaku sambil mendengarkan cerita Ibu itu.
“Saya berumur sekitar tujuh belas tahun ketika itu terjadi. Wu, Bapak saya adalah seorang pejabat tinggi yang menghargai bawahannya. Dia sangat dihormati siapa saja yang dia kenal. Walaupun dia sangat kayak raya, dia tidak pernah menyombongkan diri di depan orang lain. Dia sangat bijaksana dalam segala hal, Wu.
“Suatu hari ada seseorang yang sangat membencinya karena hal-hal positif tersebut. Dia berusaha sekuat tenaga dan melakukan segala cara yang jahat untuk menjatuhkan bapak saya. Semuanya dia lakukan mulai dari memancing emosi bapak saya di depan umum, sampai menggunakan ilmu hitam. Syukurlah semuanya gagal karena pertolongan teman-teman bapak saya.
“Kegagalannya tidak membuat dia berhenti, Wu. Dia semakin terobsesi untuk menjatuhkan Bapak saya. Dan kali itu di mempunyai senjata yang sangat ampuh.”
“Apa itu, Bu?” Aku mulai mencondongkan bahuku ke depan.
“Bukan apa,siapa.”
“Maksud Ibu?”
“Saya sendiri, Wu.”
AKu menahan diri untuk tetapdiam. Pastilah tidak mudah untuk seorang anak mengakui kejahatannya sendiri kepada Bapaknya. Dia sedikit terisak. Aku merogoh kolong meja bawahku yang tidak ada apa-apanya dan kemudian menaruh tanganku ke atas meja dengan tujuh helai tisu yang diambilnya dan diremasnya tak beraturan. Matanya kosong menatap ke arah kanan.
“Ibu masih mau melanjutkan cerita Ibu atau mungkin kita…”
“Akan saya lanjutkan, Wu. Selama disini saya sudah belajar bahawa langkah pertama menyelesaikan masalah adalah mengakui kalau masalah itu benar-benar ada. Akan saya lanjutkan, Wu.”
Aku hanya mengangguk.
“Laki-laki itu sangat tampan, Wu. Dia adalah sosok kemapanan di mataku selain Bapakku. Yang membedakan mereka berdua adalah kemudaan jiwa yang dipunyai laki-laki itu yang tidak aku temukan di sosok Bapakku.
Dia adalah laki-laki yang tegar, yang penuh petualangan dan dia mencoba membawaku kesana, Wu. Aku masih muda. Aku terkalahkan oleh keinginan mencoba sesuatu yang dilluar kehidupanku.”
“Apa itu, Bu?”
“Kebebasan.”
Aku masih belum jelas dengan apa yang dia maksudkan dengan kebebasan.”
“Dia menunjukkanku arti kedewasaan. Aku harap kamu mengerti maksudku, Wu. Aku tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya kepadamu tanpa merasa lebih malu.”
Aku mengerti apa yang dia rasakan. Tetapi aku tidak boleh salah akan penilaianku terhadap ibu di depanku ini. Aku memejamkan mata dan menuju ke suatu waktu dimana aku melihat ada dua tangan manusia berbeda jenis yang berpegangan erat. Tangan seorang laki-laki dewasa dan seorang gadis remaja. Laki-laki dewasa itu mengelus-elus tangan kiri si gadis dengan penuh kasih saying. Si gadis melepaskannya sebentar untuk pergi ke dapur dan menyiapkan segelas minuman untuk si laki-laki. Kemudian si gadis kembali ke laki-laki tersebut dan memberikan gelas berisi air putih itu kepadanya. Lalu aku bisa melihat betapa temanku dekat sekali dengan laki-laki itu setelah sebelumnya badan laki-laki itu bergetar hebat karena minuman yang baru saja ditenggaknya. Dan dia terjatuh dan hilang ketika kepala bagian kirinya membentur pinggiran meja meninggalkan bekas luka yang biru. Lalu aku melihat temanku menggendeng jiwa si laki-laki yang saat itu matanya memancarkan kekagetan yang amat sangat.
Di pikiranku yang lain, si gadis terisak-isak hebat di pelukan laki-laki dewasa lain. Dan setelah itu aku kembali menatap ibu di depanku dengan mata merahku yang menyala!
“Maafkan aku. Aku tidak berhak mendapatkan apa yang aku pinta darimu, Wu. Aku tidak berhak.”
Mata merahku padam ketika aku menatap dadanya. Hatinya mengeluarkan air mata dan ada bayangan jelas disana akan dirinya yang sudah tua mendengar kabar bahwa Ayahnya sedang menangis berjalan kesana kemari di luar kamar persalinan Rumah Sakit dengan perasaan yang tidak menentu. Dia sedang menunggui istrinya yang berjuang untuk dua nyawa---nyawanya dan nyawa seorang bayi.
“Aku hanya menginginkan sebuah kesemaptan lagi untuk memperbaiki semuanya. Mereka berhak akan kesempatan itu, tetapi aku tidak. Aku jahat, Wu.”
Ibu itu bangun dari tempat duduk dan segera berlari menuju pintu. Aku membuat jarak tempuhnya menjadi satu keabadian. Aku sengaja melakukan itu.

“Menurutmu dia berhak akan kesempatan itu?”
“Aku sudah melakukan ini berkali-kali dan kali itu adalah pertama kali aku menitikkan air mata karena aku terserang rasa sedih. Aku tidak pernah menangis sebelumnya. Aku sudah melihat banyak sekali manusia yang ingin kembali tetapi untuk dirinya sendiri. Dia ingin kembali karena ayahnya. Bukan karena dirinya sendiri.”
“Mengapa kamu tidak berpikir kalau dia akan lupa dengan tujuannya kembali?”
“Aku yakin dia tidak akan lupa.”
“Dia adalah seorang anak manusia. Manusia selalu lupa dengan hal-hal baikketika mereka mendapat kesenangan, Wu.”
“Kalau begitu ijinkan aku mengingatkannya. Aku yakin dia akan selalu ingat, Tuan.”
“Apakah kamu yakin, Wu?”
“Dengan seluruh hatiku, Tuan.”
“Baiklah.”

Aku kembali memperhatikan Ibu itu menuju pintu gerbang merah marun di ruanganku yang menjadi lebih dekat dengannya. Tangannya meraih pintu itu dan membukanya. Kakinya melangka keluar dan dia terjatuh ke bawah,…jauh ke bawah.


Laki-laki yang tadi menunggui istrinya bergetar hebat hatinya. Dia mendengar rengekan seorang bayi. Matanya berbinar. Lapisan kulitnya terangkat dari yang lain dan dia merasa kekhawatirannya pergi terngakat bersama kulit itu.
“Anak laki-lakiku!!!” pekiknya di depan kamar Rumah Sakit.
Seorang suster keluar dan memberinya kabar bagus.
“Selamat tuan. Anda menjadi ayah dari seorang putri yang cantik.”
“Putri?” Kebingungan menyerang si laki-laki.”
Dia berjalan mondar-mandir sambil menunggu gilirannya melihat mata tak berdosa itu. Dan ketika saatnya tiba, dia merasa sangat bersyukur mendapatkan bayi yang sehat walaupun ada tanda kebiruan di kepala sebelah kirinya.

--Je--
Read On 0 comments

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
There is a time in a man's life when he has to make a very important decision that will affect his future. For me,..it's writing this blog. ( Exaggerating is an art!!)

leave ur msg after the "beep". LOL.


ShoutMix chat widget
Count me in...